Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


2 Comments

Why?

Why? Mengapa? Kata ini mungkin yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain Tuhan di muka bumi ini. “Mengapa?” menunjukkan betapa manusia selalu ingin tahu tentang apapun fenomena di dunia ini. Bahkan Tuhan-pun sering menyindir dan memerintahkan manusia untuk selalu memikirkan kejadian-kejadian alam yang melingkupinya. Tentang pergantian siang dan malam, tentang penciptaan manusia dalam wujud laki-laki dan perempuan, tentang tata letak bintang-bintang, tentang kejadian alam dan alam itu sendiri, bahkan tentang penciptaan manusia sendiri, dan lain-lain, dan lain-lain.

Perintah-perintah dan sindiran-sindiran itu bukanlah tanpa alasan. Manusia memiliki tempat istimewa di hadapan Tuhan dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Makhluk-Nya yang lain sebagian diciptakan hanya dengan potensi untuk menuruti perintah-Nya. Sebagaian yang lain hanya untuk membangkang dan melanggar perintah-Nya. Sedangkan manusia? Manusia diberi potensi untuk kedua-duanya, menuruti atau melanggar perintah-Nya. Lebih istimewanya lagi, Tuhan menundukkan sebagian makhluk-Nya untuk kepentingan manusia. Penundukan ini merupakan fasilitas yang diberikan kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pengelola bumi. Atas seizin-Nya, misalnya, air, api, tanah, udara, hewan, tumbuh-tumbuhan, mau-mau saja dimanfaatkan oleh manusia. Itulah istimewanya manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain.

Sumber daya yang ada dalam diri manusia senantiasa berkembang seiring dengan tantangan zaman yang dihadapinya. Untuk yang satu inipun, Tuhan juga memberikan fasilitas berupa pengajaran. Masih ingat ketika salah satu putra Adam yang kebingungan bagaimana memperlakukan saudaranya yang telah ia bunuh? Masih banyak lagi pengajaran yang Tuhan berikan kepada manusia. Alam semesta dan fenomena yang terjadi di dalamnya merupakan pengajaran yang Tuhan berikan kepada manusia. Tinggal bagaimana manusia bisa membaca tanda-tanda itu.

Rasa ingin tahun manusia membuatnya selalu berpikir untuk bagaimana menaklukkan tantangan-tantangan itu. Berbeda dengan hewan, kera misalnya. Sama-sama ingin menyeberang sungai, tidak pernah terbersit dalam benak kera untuk membuat jembatan, kan? Manusia memang tidak bisa terbang karena tidak dikaruniai sayap seperti burung. Nyatanya? Dengan rasa tahunya yang begitu besar, manusia bahkan mampu terbang lebih jauh dan lebih cepat daripada burung. Tubuh manusia juga tidak dilengkapi dengan insang dan sirip yang dengan itu ia bisa bernapas dan bergerak bebas di dalam air. Nyatanya? Bahkan manusia mampu menyelam ke dalam lautan paling dalam sekalipun.

Tidak salah memang manusia dipercaya untuk mengelola alam semesta ini. Terserah kepada manusia. Dengan segala keistimewaan itu, manusia dapat memberikan kemanfaatan. Namun, dengan keistimeewaan yang sama, manusia juga memiliki potensi yang sama untuk merusak alam semesta ini. Mengapa? Teruslah beringintahu. Karena itulah yang membedakan kita dengan makhluk-makhluk yang lain.

Ciputat, 22 Nov 2012.

Advertisements


Leave a comment

Hanyalah Cinta – Anggun yang Anggun

Mendengarkan lagu Anggun, “Hanyalah Cinta” pada awalnya saya tidak menanggapnya sebagai sesuatu yang spesial kecuali karakter suara Anggun yang memang “Anggun” banget, suara khas Anggun. Namun beberapa kali mendengarkan lewat Winamp didukung dengan MiniLyrics –yang karenanya lirik bisa muncul dilayar layaknya karaoke–, saya baru “ngeh” kalau lirik lagu ini memiliki makna yang dalam, makna yang sufistik.

Si pencipta lirik sadar betul bahwa semua yang bersifat kebendaan, kekinian, dan keduaniawian akan pudar, akan hilang, tidak untuk selamanya, hanya sementara saja. Yang kita cari, kita mau, selalu kita tunggu, yang kita nanti, semestinya adalah cinta yang abadi, cinta ilahi. Dialah sumber kebahagiaan abadi, kebahagiaan hakiki. Si pencipta juga menyadari bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Ada ruang dan waktu yang membatasinya. Selalu ada pertempuran antara kekuatan hitam dan kekuatan putih dalam diri manusia. Pertempuran dan persaingan untuk “memiliki” jiwa dan raga kita. Tinggal manusianya, mau memihak yang hitam atau memihak yang putih. Untuk itu, senyampang waktu masih berdetak, proses mencari arti hidup harus terus berlangsung. Yang bermakna kita pertahankan dan perjuangkan. Yang sia-sia kita tinggalkan.
Coba kita simak lirik “Hanyalah Cinta” di bawah ini”

Hanyalah Cinta – Anggun

semua yang telah aku dapat
indah dan gemerlap
satu hari kan pudar
dan sinarnya akan hilang

sesuatu yang telah aku raih
di dalam hidup ini
tak untuk selamanya
ini semua sementara

reff:
yang aku cari hanyalah cinta
hanya cinta yang tak terganti
yang aku mau hanyalah cinta
hanyalah cinta yang ku beri

yang selalu ku tunggu hanyalah cinta
hanya cinta yang tak terganti
yang aku nanti hanyalah cinta
hanyalah cinta yang abadi

mencari artinya hidup ini
detak waktu masih ada
ada yang paling bemakna
apa yang kan sia-sia

Dunia hiburan memilik magnet yang luar biasa kuat untuk orang-orang mengikuti trend yang dihembuskannya. Dibutuhakan sebuah keberanian, memang. Sesuatu yang idealis seringkali tidak laku di pasar dunia hiburan. Sebuah tantangan bagi mereka yang berkecimpung di dunia hiburan. Berani terima tantangan?