Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


4 Comments

Kesetiaan Itu Penawarnya

3701009-illustration-of-an-old-coupleSore itu, selepas turun dari sholat Ashar di masjid sebelah rumah, ada pemandangan yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini.

Seorang pria pensiunan PNS daerah, usia 50-an tahun, sedang berusaha bangkit dari tempat sholatnya. Tampaknya dia kesulitan untuk bangun. Orang-orang di sekitarnya tidak ada yang membantunya. Bukannya orang-orang itu tidak peka dengan keadaan. Hari-hari sebelumnya, pria ini menolak bantuan orang-orang sekitarnya untuk membantunya berdiri. Dia ingin berdiri dengan kekuatannya sendiri. Dengan sekuat tenaga, akhirnya ia mampu bangkit dan berjalan keluar masjid dengan langkah yang jauh lebih lambat daripada sebelum dia terkena stroke beberapa bulan yang lalu.

Mendekati anak tangga ketika hendak turun, lagi-lagi, pria ini musti berhati-hati menjaga langkahnya. Satu anak tangga terlewati dengan sukses. Anak tangga kedua, sukses. Ketika hendak turun ke paving stone pelataran masjid, dan berusaha memakai sandalnya, kelihatan sekali bahwa dia begitu kesulitan memasukkan kakinya ke sandal itu. Tiba-tiba, datang seorang wanita, lebih kurang 5 tahun lebih mudah daripadanya, berusaha membimbing langkahnya. Mengarahkan sepasang sandal itu ke kaki pria itu. Dan, kedua sandal itu berhasil terpakai di kaki pria ini. Tidak selesai sampai di situ, ia berusaha membimbing langkah pria ini hingga sampai di rumahnya.

Kawan, kurang lebih setahun yang lalu, tersebutlah seorang pria PNS yang berdinas di sebuah pasar kecamatan. Meskipun sudah termakan usia, wibawa dan karismanya masih terlihat jelas. Bersama istrinya, dia telah dikaruniai dua orang putra. Putra pertama menjadi aggota TNI dan tinggal di Jakarta. Sesekali saja, misalnya ketika Idul Fitri, dia, bersama-sama anak dan istrinya pulang menjenguk ayah ibunya. Putra yang satu, masih kuliah di sebuah perguruan tinggi dan masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Keluarga bahagia. Begitulah kira-kira para tentangga melihatnya. Hingga suatu saat, pria ini menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda daripada istrinya. Sementara, istri yang selama ini mendampinginya tidak dicerai. “Diwayuh”, orang Jawa mengatakan. Atau, dimadu dalam Bahasa Indonesia. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan sang istri. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kehidupan satu suami dengan satu istri tua dan satu istri muda ini. Belum lagi lika-liku memadukan dua keluarga yang masing-masing memiliki anak ini. Bolak-balik ke rumah istri tua, yang juga rumahnya sendiri, dan rumah istri muda adalah rutinitas barunya. Maklum, harus bisa adil. Tetapi ketika ia harus lebih sering ke rumah istri muda, manusiawi. Yang baru tentu lebih membuat penasaran.

Hingga tiba saatnya stroke itu menyerang sang suami. Jadilah istri tua menjadi perawat pribadinya di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Dengan segala ketulusan dan kesetiaan, tiap pagi dan sore sang istri memandikan suaminya. Memakaikan bajunya. Menuntun suaminya saat jalan. Berusaha membangkitkan semangat hidup, itulah yang dilakukan sang istri. Sementara istri muda hanya sesekali saja datang menjenguk. Terus menerus tanpa keluh sang istri tua ini melakukannya dengan penuh tulus dan setia. Statusnya sebagai istri yang dimadu sudah bukan masalah lagi buatnya. Yang ia tahu adalah suaminya memerlukan dorongan semangat darinya. Hancurnya perasaan kala itu tidak mampu mengalahkan kesetiaanya kepada sang suami.

Hingga tibalah peristiwa sore itu, selepas sholat Ashar. Ya, Anda sudah pasti menduganya. Sang istri tualah wanita itu.

Sahabat, kesetiaan mampu meluluhkan malu dan gengsi. Bagaimana tidak? Jika bukan karena kesetiaan istrinya, tentu sang suami ini malu dibimbing oleh seorang wanita hanya untuk memakai sepasang sandal. Padahal sebelumnya ia menolak bantuan orang-orang sekitarnya untuk sekadar berdiri. Kesetiaan mampu menawarkan kepahitan hati. Bagaimana tidak? Jika bukan karena kesetiaan, bagaimana mungkin sang istri mau merawat suami yang telah menghancurkan hatinya? Kesetiaan mampu meluluhkan kerasnya hati. Kesetiaan mampu membangkitkan semangat yang memudar. Bagaimana tidak? Jika bukan karena kesetiaan istrinya, bagaimana mungkin sang suami mampu menjalani hidupnya bak bayi yang rentan?

Sahabat, kesetiaan itu adalah penawarnya.

Semoga kita mampu setia dengan apa yang kita yakini benar. Bukan hanya yang kita yakini benar. Akan tetapi benar yang benar-benar selaras dengan kebenaran hakiki. Semoga.

@dIeN’s


Leave a comment

Pelajaran dari Sepatu dan Hujan

Sepatu Pria Kulit Asli BS 85_20110322141108Sore itu, menjelang pulang kantor, hujan turun begitu derasnya. Salah seorang kawan berkata, “Wah, sepatuku musti disimpan, nih. Sayang kalau nanti kebasahan.” Secara spontan saya berkata, “Hei, sepatu itu kan fungsinya untuk melindungi kaki dari terik matahari dan hujan. Lah, pada saat dia harus menjalankan fungsinya untuk melindungi kaki kita, mengapa kita pusing-pusing berpikir untuk melindunginya?” “Berpikirnya koq terbalik”, pikir saya. Kala itu, logika saya yang lebih dominan.

Tapi, sejurus kemudian saya berpikir, “Ada benarnya juga, sih. Saasepatu-ap-boot-moto-1t hujan deras begini, kita tidak harus memaksa sepatu untuk menjalankan tugasnya. Bisa-bisa, ia malah rusak dan tidak akan bisa melindungi kaki kita lagi di kemudian hari.” Ada baiknya kita menyimpannya dan menggantikannya dengan sandal, misalnya. Atau dengan yang lebih baik, sepatu boot khusus untuk hujan. Sepatupun legowo tugasnya diambilalih oleh sandal yang kualifikasinya dianggap lebih rendah, atau oleh sepatu boot yang kualifikasinya lebih tinggi. Di lain sisi, sandal atau sepatu boot harus siap sedia menggantikan peran sepatu.

Kawan, situasi hujan dan cerita tentang sepatu di atas bisa saja terjadi dalam sebuah organisasi. Anggota organisasi, di setiap level, memiliki tugas utama untuk menyukseskan agenda organisasi. Kepentingan individu atau kepentingan kelompok semestinya tidak mengalahkan kepentingan organisasi. Dalam kondisi apapun, “cuaca cerah” maupun “hujan”, setiap anggota organisasi harus siap sedia untuk “melayani” organisasi. Tentu, sesuai dengan porsi, posisi dan perannya dalam organisasi itu. Jika masing-masing saling memahami porsi, posisi, dan perannya, dan berkomitmen dengan tujuan organisasi, maka dapat dipastikan tujuan organisasi akan tercapai dengan baik.

Namun, dalam kondisi “hujan” sebagaimana yang dialami sepatu dalam cerita di atas, diperlukan kepekaan dari pemimpin organisasi untuk dengan cepat mengambil tindakan agar pencapaian tujuan tidak terganggu. Kepekaan untuk membaca apakah anggota organisasi mampu atau tidak bertahan dan menjalankan tugasnya dengan baik meskipun dalam kondisi seperti itu. Kalau memang dia mampu, apakah perlu ia perlu diberikan perlindungan atau tidak? Jika si anggota tidak mampu, apakah musti digantikan dengan anggota lain? Apakah anggota pengganti memiliki kualifikasi yang sepadan atau lebih tinggi?

Bukan hanya pemimpin saja yang musti peka. Si anggota juga harus peka dengan diri dan lingkungannya. Ketika ia tidak mampu menghadapi “hujan”, dia harus tahu apa yang musti dikerjakan. Melengkapi dirinya dengan kualifikasi lebih atau dengan legowo menyerahkan kembali tugas kepada pemimpin untuk didelegasikan kepada anggota yang lain?

Pun demikian juga dengan anggota pengganti. Ketika pendelegasian tugas dilimpahkan kepadanya, dia harus siap sedia meskipun “hujan”. Tidak ada dalam benaknya untuk menyalahkan si A atau si B yang tidak mampu melaksanakan tugas. Ketika tugas dipercayakan kepadanya, satu kalimat yang ia musti camkan, “Saya pasti bisa!”

Jika masing-masing pemimpin dan anggota organisasi saling memahami peran masing-masing, sekali lagi, tujuan organisasi akan tercapai dengan baik. Namun, jika sebaliknya, misalnya pemimpin tidak mau tahu kondisi anggotanya, si anggota juga tidak peka dengan kemampuannya. Si pengganti juga tahunya menggerutu, dan sebagainya, maka, Anda bisa membayangkan apa jadinya organisasi seperti itu.

Kondisi semacam ini akan semakin parah jika masing-masing elemen organisasi lebih mementingkan kepentingan individu atau kelompoknya daripada kepentingan organisasi. Kepentingan, kepentingan, dan lagi-lagi kepentingan.

Semoga kita tidak terjebak dengan kepentingan sesaat yang terkadang menyesatkan.

@dIeN


2 Comments

Merubah Bulan Lahir dari Angka Menjadi Huruf (seri database #4)

Agar dikenali oleh sistem aplikasi database, maka input tanggal yang tepat adalah dengan format dd-mm-yyyy. Misalnya 20-01-1978 untuk 20 Januari 1978. Sebagian kawan mungkin sudah ada yang menyesuaikan input data peserta dengan format seperti itu. Sebagian juga mungkin menyesuaikannya dengan dua kali input, “20-01-1978” dan “20 Januari 1978”. Hal ini wajar karena untuk kebutuhan penerbitan sertifikat atau STTPP, bulan lahir harus ditampilkan dengan format “Januari” yang selanjutnya kita sebut dengan format huruf, bukan dengan format “-01-“ yang selanjutnya kita sebut dengan format angka. Duh, jadi ribet, kan?

Biar gak ribet, silakan unduh 04-Mengubah Bulan Lahir dari Angka Menjadi Huruf

Selamat Mencoba


Leave a comment

Memisahkan Tempat dan Tanggal Lahir (seri database #3)

Hasil input tempat dan tanggal lahir kadang membuat pusing karena format impor database menginginkan agar tempat dan tanggal lahir itu dipisahkan. Apalagi tanggalnya ditentukan dengan format dd-mm-yyy. Misalkan hasil input Tuban, 15 Agustus 1980. Maka, data yang diharapkan oleh sistem aplikasi adalah Tuban dan 15-08-1980 di dua kolom yang berbeda.

Terhadap data NIP yang 18 digit dan diinput dengan benar, hal ini mungkin tidak menjadi masalah karena tinggal dimasukkan formula ke dalam Excel maka tanggal lahir bisa diambil otomatis. Namun, terhadap NIP lama?

Artikel berikut mudah-mudahan dapat sedikit membantu. Silakan unduh di 03-Memisahkan Tempat dan Tanggal Lahir

Selamat Mencoba

🙂 🙂 🙂


Leave a comment

Bermain-main Dengan Hasil Input NIP (seri database #2)

Pada posting sebelumnya, kita telah sama-sama belajar bagaimana menginput atau memperbaiki NIP menjadi seperti yang diharapkan oleh sistem aplikasi database. NIP yang “benar” ini selanjutnya bisa kita optimalkan untuk mengisi kolom-kolom yang lain dalam format impor database. Di antaranya tanggal lahir, jenis kelamin, dan TMT CPNS.

Silakan unduh di sini Bermain-main dgn Hasil Input NIP

Semoga Bermanfaat


Leave a comment

Hasil Input NIP Bikin Pusing? (seri database #1)

Bagi kawan-kawan pengelola database, cara instan memperbarui database adalah dengan mengimpor data alumni ke dalam sistem aplikasi. Impor ini adalah satu-satunya cara untuk memasukkan data yang sudah ada, dalam format excel,  ke dalam sistem aplikasi.

Salah satu data krusial adalah NIP mengingat NIP ini menjadi primary key. Namun, hasil input NIP ini seringkali membuat kawan-kawan pengelola database dibuat pusing. Bagaimana tidak? Ada yang memakai tanda petik [‘] di depannya. Ada yang pakai spasi, ada yang formatnya gak jelas, dll. Padahal, sistem aplikasi hanya menerima NIP yang jumlahnya digitnya adalah 18, tanpa tanda petik, dan tanpa spasi. Artikel berikut hasil-input-nip-bikin-pusing mudah-mudahan bisa membantu kawan-kawan pengelola database untuk mengatasi hasil input NIP yang bikin pusing.

Semoga tidak lagi pusing.