Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Pasar Kaget Pagi Ini – Tips Menghadapi Wanita Cerewet

r536410_3087865Pagi ini cuaca begitu cerah. Berangkat dari rumah lebih pagi dari biasanya membuat saya tidak merasakan macet di jalan. Lancar. Sesampai di kantor, seperti biasa, cuci muka, dan menghampiri para kolega untuk bertukar salam. Sebelum kembali ke tempat duduk, tak lupa saya mengambil segelas teh hangat untuk disruput sambil cari-cari berita di Internet.

Tak lama kemudian, ruangan saya diserbu para kolega wanita. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba suasana ruangan menjadi “meriah”. Saya terheran-heran. Ini ibu-ibu pagi-pagi koq sudah bikin gaduh. Namun saya segera sadar. Maklum, wanita! Ada juga sebagian kawan yang melirik sinis pada aktivitas mereka, merasa terganggu dengan kegaduhan yang ia rasakan. Pagi-pagi koq sudah buka pasar di ruangan. Itu barangkali yang ia pikirkan.

Tapi, memang begitulah wanita. Menilik situs sebelah https://www.sahabatnestle.co.id/Page/arsip/artikel/mengapa-perempuan-dewasa-lebih-banyak-bicara, wanita memang ditakdirkan lebih banyak omong daripada pria. Jadi, sudah dari sono-nya wanita itu lebih banyak bicara. Lebih cerewet! He he he.

Lantas, bagaimana kita menyikapi wanita yang lebih banyak omong ini? Sebagian Anda mungkin pernah merasakan betapa cerewetnya seorang wanita. Membicarakan hal-hal detil yang tidak penting. Merasa khawatir yang berlebihan. Dan bisa jadi wanita itu adalah pasangan hidup Anda.

Dikutip dari merdeka.com, berikut ini adalah trik-trik menghadapi wanita banyak omong atau cerewet.

Mengangguk
Mengangguk pada semua ucapan wanita adalah cara pertama yang dilakukan pria saat menghadapi lawan jenis yang cerewet. Wanita pun akan menganggap pria mendengarkan mereka dengan seksama.

Ya dan tidak
Selain mengangguk, tanggapan kata-kata seperti ya atau tidak juga sering dilakukan pria saat mereka mengobrol dengan wanita cerewet. Tanggapan ya dan tidak tersebut juga sering disesuaikan dengan nada atau intonasi tertentu. Misalnya, “Oh ya? Tidak mungkin.”

Kamar mandi
Terakhir, pria menggunakan alasan harus pergi ke kamar mandi saat terjebak bersama wanita cerewet. Jika pembicaraan dilakukan lewat telepon, pria bisa menghindar sepenuhnya. Tetapi jika tidak, pria harus siap menghadapi pembicaraan babak kedua bersama wanita cerewet.

Itulah beberapa cara pria menghadapi pria yang cerewet. Apakah Anda punya cara lain jika sedang berhadapan dengan lawan jenis yang terlalu banyak bicara?

Advertisements


Leave a comment

Tidak Menikah Adalah Sebuah Pilihan

marriage NO!Hari ini saya mendapatkan telepon dari seorang sahabat. Katanya, ada salah seorang kawanku yang akan menikah dengan kawannya. Usut punya usut, ternyata yang menjadi Mak Comblang mereka adalah kawan kami juga. Untuk memastikan itu, saya coba SMS-an dengan kawanku yang akan menikah tadi. Singkatnya SMS, kami berkesimpulan bahwa dunia ini begitu sempit. Kawanku itu bilang, “Tibae mbulet ae, yo”. “Ternyata muter-muter aja, ya”, begitu barangkali terjemahan bebasnya. Saya bilang padanya, “Ya, itulah yang namanya jodoh”. Semuter-puter apapun, kalau sudah ditakdirkan ketemu, ya, ketemu.

Memang bisa dikatakan demikian. Bagaimana tidak, kawan saya itu itu, perempuan, seusia dengan saya, baru ketemu dengan jodohnya. Sebuah perjalanan yang panjang, mbulet kalau dia bilang. Sebuah perjalanan yang bukan tanpa proses. Proses mencari, proses pendekatan, proses patah hati, proses move on, proses mencari lagi, proses pendekatan lagi, proses patah hati lagi, proses move on lagi, dan lagi, dan lagi, sampai akhirnya ketemu dengan belahan jiwa. Memang itulah cara Tuhan memberika pelajaran bagi makhluk-Nya yang namanya manusia itu. Tuhan tidak semerta-merta memberikan jodoh, atau apapun yang kita mau. Namun Tuhan membiarkan manusia berproses untuk akhirnya sampai pada kedewasaan, dan sampai pada apa yang kita mau. Dan, sering kali, untuk berproses itu, manusia dituntut, artinya mau tidak mau, harus berkorban. Dalam banyak hal, pelajaran yang Tuhan berikan TIDAK GRATIS. Ada yang patah hati, ada yang kehilangan harta benda, ada kehilangan orang yang ia cintai, dll.

Mendengar kepastian kabar itu, saya sangat bahagia. Betapa tidak, saya telah merasakan bagaimana bahagianya orang menikah. Dalam banyak guyonan, orang bilang sering menyesal telah menikah. Menyesal kenapa tidak dari dulu ia menikah. Ada lagi yang bilang kalau menikah itu enaknya cuma 25%. Yang 75%, uuueeenak puoool. Mendengar bahwa kawan saya akan merasakan kebahagiaan itu tentulah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Namun, bagi sebagian orang, menikah bukanlah prioritas dalam hidupnya. Bahkan, mereka menjadikan tidak menikah sebagai sebuah pilihan dalam hidupnya. Ada banyak alasan yang mereka kemukakan. Dalam sejarah Islam, beberapa ulama besar memilih untuk tidak menikah. Tentu, dengan berbagai alasan mereka. Untuk mengetahuinya, cobalah kunjungi http://meilana.wordpress.com/2011/02/12/para-ulama-yang-membujang/#more-895. Rata-rata alasan mereka memilih hidup membujanag adalah untuk mendedikasikan hidupnya pada ilmu pengetahuan. Hampir seluruh waktu mereka adalah untuk menulis dan menulis hingga tulisan mereka masih bisa kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Ilmu yang manfaat lebih mulia daripada sekadar menikah, itulah mungkin alasan mereka.

Apapun pilihan mereka, dan pilihan orang-orang yang mengikuti mereka dalam hal tidak menikah, itu adalah pilihan hidup mereka. Dan itu patut kita hormati.  Untuk kawan dan sahabatku, HS, selamat berbahagia. Bagai sahabat-sahabatku yang belum menemukan belahan jiwanya –belahan jiwa untuk saling berbagi suka, berbagi duka, berbagi asa, berbagi cita, berbagi cinta– semoga segera menemukan jodohnya. Amin.

Yang sedang berbahagia untuk kawan dan sahabatnya,

@dIeN’s


3 Comments

The Passage of My Life

Inspired by Kitaro’s Album: Dream (http://mp3skull.com/mp3/kitaro_dream.html)

Deep in the forest, so deep, I heard sounds of joy. I heard sounds of laughter, sounds of happiness. I heard sounds of tears. I heard sound of fears, sound61bcidZwbAL._SL500_AA300_s of sadness. Sound of the forest. Sound of the forest in symphony. “Symphony of the Forest.” Sometimes it sounds so sweet, but sometimes it sounds so tart. Sweetness and tartness fused into one, in the forest, in her.

Still, I walked trough in. Until I found my self in a place. On an island. Everything looked so strange to me. I saw struggling, I saw rebellion, I saw willingness to be it self. I saw strong hope for happiness. But, all I saw weren’t like as they looked like. All I see was desperation. Desperation wrapped in loyalty. All I saw were mystery. Mystery on the “Mysterious Island”.

Still, on the island of mystery, I found a girl, a lady. So simple, so beautiful. So sincere. I didn’t know why I gave my everything to her, sincerely. I gave her  my pride, my hope, my thrust, my love, my affection, my body, and my soul. My everything, everything until I got naked. Lying naked beside her. But, she was only dream. My “Lady of Dream”.

Still, on the island of mystery, I found my self in loneliness. Nothing left. No more pride. No more hope. No more love. No more body. No more soul. No more thrust. No more. Nothing. There was only anger. Anger in pain. So painful. Tears escaped from me in silent. No sounds. Only drop of tears. “A Drop of Silence”.

I didn’t realize, “Agreement” has been made. “Dream of Chant” has been planed to sail through the “Magical Wave”. Her, him, and them. My lady of dream has had her own symphony to play, with him, with them. “Symphony of Dream” played in the “Island of Life”, their life.

On the island of no more mystery, I realized my self. I realize that all were the way I should get trough. Slowly, more than a season, I found back my lost pride, my lost hope, my lost love, my lose affection, my lost body, my lost soul, and my lost thrust. I found my self back. There’s a long passage in front of me to get trough. The passage of a new hope for a new love. The passage for a better tomorrow. “A Passage of Life”. This is my passage.

Dedicated to AW. Where’re you now?