Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …

Tidak Menikah Adalah Sebuah Pilihan

Leave a comment

marriage NO!Hari ini saya mendapatkan telepon dari seorang sahabat. Katanya, ada salah seorang kawanku yang akan menikah dengan kawannya. Usut punya usut, ternyata yang menjadi Mak Comblang mereka adalah kawan kami juga. Untuk memastikan itu, saya coba SMS-an dengan kawanku yang akan menikah tadi. Singkatnya SMS, kami berkesimpulan bahwa dunia ini begitu sempit. Kawanku itu bilang, “Tibae mbulet ae, yo”. “Ternyata muter-muter aja, ya”, begitu barangkali terjemahan bebasnya. Saya bilang padanya, “Ya, itulah yang namanya jodoh”. Semuter-puter apapun, kalau sudah ditakdirkan ketemu, ya, ketemu.

Memang bisa dikatakan demikian. Bagaimana tidak, kawan saya itu itu, perempuan, seusia dengan saya, baru ketemu dengan jodohnya. Sebuah perjalanan yang panjang, mbulet kalau dia bilang. Sebuah perjalanan yang bukan tanpa proses. Proses mencari, proses pendekatan, proses patah hati, proses move on, proses mencari lagi, proses pendekatan lagi, proses patah hati lagi, proses move on lagi, dan lagi, dan lagi, sampai akhirnya ketemu dengan belahan jiwa. Memang itulah cara Tuhan memberika pelajaran bagi makhluk-Nya yang namanya manusia itu. Tuhan tidak semerta-merta memberikan jodoh, atau apapun yang kita mau. Namun Tuhan membiarkan manusia berproses untuk akhirnya sampai pada kedewasaan, dan sampai pada apa yang kita mau. Dan, sering kali, untuk berproses itu, manusia dituntut, artinya mau tidak mau, harus berkorban. Dalam banyak hal, pelajaran yang Tuhan berikan TIDAK GRATIS. Ada yang patah hati, ada yang kehilangan harta benda, ada kehilangan orang yang ia cintai, dll.

Mendengar kepastian kabar itu, saya sangat bahagia. Betapa tidak, saya telah merasakan bagaimana bahagianya orang menikah. Dalam banyak guyonan, orang bilang sering menyesal telah menikah. Menyesal kenapa tidak dari dulu ia menikah. Ada lagi yang bilang kalau menikah itu enaknya cuma 25%. Yang 75%, uuueeenak puoool. Mendengar bahwa kawan saya akan merasakan kebahagiaan itu tentulah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Namun, bagi sebagian orang, menikah bukanlah prioritas dalam hidupnya. Bahkan, mereka menjadikan tidak menikah sebagai sebuah pilihan dalam hidupnya. Ada banyak alasan yang mereka kemukakan. Dalam sejarah Islam, beberapa ulama besar memilih untuk tidak menikah. Tentu, dengan berbagai alasan mereka. Untuk mengetahuinya, cobalah kunjungi http://meilana.wordpress.com/2011/02/12/para-ulama-yang-membujang/#more-895. Rata-rata alasan mereka memilih hidup membujanag adalah untuk mendedikasikan hidupnya pada ilmu pengetahuan. Hampir seluruh waktu mereka adalah untuk menulis dan menulis hingga tulisan mereka masih bisa kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Ilmu yang manfaat lebih mulia daripada sekadar menikah, itulah mungkin alasan mereka.

Apapun pilihan mereka, dan pilihan orang-orang yang mengikuti mereka dalam hal tidak menikah, itu adalah pilihan hidup mereka. Dan itu patut kita hormati.  Untuk kawan dan sahabatku, HS, selamat berbahagia. Bagai sahabat-sahabatku yang belum menemukan belahan jiwanya –belahan jiwa untuk saling berbagi suka, berbagi duka, berbagi asa, berbagi cita, berbagi cinta– semoga segera menemukan jodohnya. Amin.

Yang sedang berbahagia untuk kawan dan sahabatnya,

@dIeN’s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s