Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

The Special One

Mendengar istilah The Special One, bagi Anda, terutama para gibol (penggila bola), pasti akan teringat pada sosok pelatih kontroversial sekaligus fenomenal, yaitu Jose Mario dos Santos Felix Mourinho yang lebih dikenal dengan nama Jose Mourinho.

Jose Mourinho 1Julukan The Special One memang pantas untuk sosok pelatih yang satu ini. Menangani FC Porto sejak Januari 2002, Mou, begitu biasanya media massa menyebutnya, berhasil mempersembahkan enam trofi dan sempat meraih treble winner pada tahun 2003. Setelah berhasil membawa Porto menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 2003 itu, pada 31 Mei 2004 Mou berlabuh ke Chelsea.

Pada musim pertamanya bersama Chelsea di Liga Utama Inggris, Mou berhasil membawa Chelsea menjadi juara. Prestasi ini berlanjut pada tahun berikutnya. Namun pada musim 2006-2007, gelar Juara Liga lolos dari Chelsea. Namun pada tahun itu Mou berhasil mempersembahkan gelar ganda sebagai Juara Piala Carling dan Piala FA bagi Chelsea. Berikutnya, setelah sempat menganggur selama sembilan bulan, pada 2 Juni 2008 Mou berlabuh ke Italia. Kali ini Inter Milan yang menikmati jasa pelatih yang kerap memberikan komentar-komentar kontoversial ini.

Sama halnya di Chelsea, tahun musim pertama bersama Inter (musim 2008-2009), Mou menjadikan klub barunya itu meraih gelar Liga Italia Seri-A. Di musim berikutnya (2009-2010), Mou bahkan membawa Inter meraih treble winner, yakni dengan meraih trofi Liga Champions Eropa, Coppa Italia, dan Scudetto Seri-A. Lagi-lagi Mou berhasil meraih treble winner. Kesuksesan bersama Inter di Italia membuat Mou menginginkan tantangan lain di tanah Spanyol. Pada 27 Mei 2010, Mou ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid.

Beberapa penghargaan individupun berhasil diraih Mou, antara lain:

Dari berbagai prestasinya yang fenomenal itu, tidak salah jika julukan The Special One melekat pada diri Jose Mourinho. Masalahnya adalah, julukan ini tidak berasal dari media massa, lembaga internasional, institusi pendidikan, atau yang lain. Julukan ini keluar dari mulut Mou sendiri. Adalah ketika tiba di Chelsea pada tahun 2004, Mourinho sendirilah yang menyebut dirinya sebagai Sang Istimewa, The Special One. Sontak saja pemberian julukan ini kerap menjadi sasaran tembak pada kuli media. Tidak terkecuali para pelatih Liga Utama Inggris. Maklum, Mou adalah orang baru di Liga Inggris kala itu. Tidak heran, beberapa media menggambarkan Mou sebagai sosok yang sombong dan angkuh. Terlepas dari citra sombong dan angkuh, Mou berhasil membuktikan kontroversi julukan itu dengan prestasi.

Ya, itulah Jose Mourinho dengan segala kontroversi the special one dan prestasinya. Bisa jadi julukan itu merupakan cerminan bahwa Mou memang sombong dan angkuh. Namun bisa jadi pula kontroversi itu sengaja ia ciptakan agar ia berprestasi tinggi, setinggi kontroversi yang mengiringinya.

Namun, virus the special one ini menyebar ke mana-mana. Hari ini beberapa di antara kita merasa sebagai yang istimewa. Bisa jadi karena posisinya dalam organisasi. Bisa jadi karena perannya yang vital dalam organisasi. Bisa jadi karena jasa-jasanya bagi organisasi. Atau, bisa jadi memang sudah karakternya yang merasa bahwa dia adalah sang istimewa.

Sebuah organisasi adalah “[n] (1) kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; (2) kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama.” (http://kbbi.web.id/). Organisasi adalah bangunan sistem dan individu-individu yang menjalankan peran sesuai dengan perannya masing-masing untuk mencapai tujuan yang disepakati bersama. Tujuan organisasi akan tercapai jika masing-masing individu memahami perannya masing-masing dan tahu betul bagaimana menjalankan peran itu. Tidak ada yang merasa inferior atau superior atas satu sama lain. Tidak ada yang merasa istimewa karena posisinya. Tidak ada yang merasa lebih penting karena peran vitalnya. Tidak ada yang merasa paling berjasa karena jasa-jasanya. Posisi, peran vital, jasa-jasa hanyalah bagian dari peran yang harus dimainkan dengan baik dalam organisasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dalam organisasi dan bagi organisasi.

So, are you the special one?

@dIeN’s

Advertisements


1 Comment

Berbeda itu Sah-sah Saja (gado-gado kelinci cantik)

 

cropped-some-are-different-hd-wallpaper-768x1366.jpg

Some are different. Itulah bunyi wallpaper yang saya temukan dari aktivitas image googling di Internet. “Beberapa (di antara kita) berbeda”, barangkali itu terjemahannya.

Saya jadi teringat kalimat dalam sebuah iklan rokok di TV, “Bersama tidak selalu sama.” Memang begitulah iklan rokok. Karena tidak boleh menampilkan rokoknya, para pengiklan rokok dengan sangat bebasnya menggunakan berbagai kalimat dan visualisasi yang seringkali tidak ada hubungannya dengan rokok. Mereka tidak perlu gusar dengan larangan itu. Toh, di penghujung iklan, mereka diharuskan menampilkan peringatan pemerintah “Merokok dapat menyebabkan dst.”. Dan, dengan membaca peringatan ini pemirsa TV pasti akan tahu bahwa iklan yang baru saja mereka saksikan adalah iklan rokok. Ketentuan untuk menampilkan peringatan pemerintah itu justru kontraproduktif untuk menekan aktivitas merokok. Ironis, bukan?

Kenapa jadi ngelantur membahas iklan rokok, ya? Ya, terlalu sayang untuk dilewatkan karena ide menulis iklan rokok tadi semerta-merta muncul dalam benak di sela-sela saya berpikir tentang apa yang musti saya tulis terkait dengan perbedaan, ide awal saya membuat tulisan ini. Ibarat kelinci cantik (ungkapan ini saya dapatkan dari sahabat lama saya), saat ia melintas di depan mata atau terlintas di pikiran, jika tidak segera ditangkap, ide itu akan pergi begitu saja. Menulis adalah ikhtiar untuk menangkap ide itu.

Kembali pada pembahasan utama, perbedaan. Manusia memang diciptakan berbeda, unik. Tidak satupun manusia di dunia ini, kembar identik sekalipun, diciptakan sama persis. Bentuk fisik memang boleh jadi sama, tapi pasti ada sisi lain yang membedakannya. Tapi di situlah indahnya perbedaan. Taman bunga itu berisi beraneka warna dan aroma bunga. Tapi justru karena keanekaan itulah taman bunga tampak lebih indah dan lebih berwarna. Itulah rahasia perbedaan. Jadi berbeda itu sah-sah saja.

Duh, kenapa tidak kelinci kecil yang lewat lagi, ya? Jadi kekeringan ide, nih. Sudahan, deh nulisnya. Tukang Bubur Naik Haji sudah mulai tayang lagi setelah beberapa iklan berseliweran di depan mata. Termasuk iklan rokok, he he he.

Ada ide tentang perbedaan? Silakan sumbang comment, ya.

yang kehabisan ide
@dIeN’s


2 Comments

Antara Lesehan dan Kursi

ruang tamu lesehanMalam itu saya menghadiri undangan seorang kerabat. Memperingati 100 hari wafatnya ayahnya, itulah hajat kerabat saya itu. Datang lebih terlambat daripada tamu-tamu lainnya, maklum rumah saya beda kampung dengan kerabat saya tadi, membuat saya bingung hendak memilih tempat duduk. Kala itu, tempat hajatan ditata dengan sistem lesehan. Tikar dan karpet digelar di ruang tamu, teras, dan halaman rumah.

Untunglah kerabat saya datang memecah kebingungan saya. Dia menghampiri dan mempersilakan saya masuk di ruang tamu. Agak gak enak juga sih melangkahi para tamu yang sudah duduk bersila di halaman dan teras yang sudah penuh itu. Tapi saya terus saja berjalan menuju ruang tamu sembari menyalami para tamu di sepanjang jalan. Sebenarnya bukan jalan, sih. Yang saya sebut jalan di sini maksudnya adalah ruang yang disediakan para tamu yang telah duduk dengan sedikit menggeser tempat duduknya. Berdesakan. Ruang tamu ternyata tidak kalah penuhnya dengan teras dan halaman. Kembali saya bingung mau duduk di mana. Salah seorang tamu ternyata memahami kegelisahan saya. Sambil menggeser sedikit duduknya, dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Ajaib, ternyata cukup!

Di malam yang lain, saya juga menghadiri undangan seorang tetangga. Undangan walimatul urusy. Kali ini saya tidak datang terlambat. Maklum, kan yang punya hajat tetangga sendiri. Kalau terlambat mah kebangetan, kan? He he he. Sambil menunggu acara dimulai, saya mengamati keadaan sekitar. Macam-macam tingkah pola para undangan. Ada yang minum, ada yang ngobrol, ada yang merokok, dan ada juga yang tersiksa dengan asap rokok tetangga duduknya. Yang terakhhir tadi itu saya, he he he. Semakin lama semakin banyak undangan yang hadir. Saya amati, seluruh kursi sudah terisi. Tidak lama berselang, acarapun dimulai.

Baru setengah jalan pembawa acara membuka acara, berdatangan beberapa tamu undangan. Melihat semua kursi telah terisi, para penyambut tamu kebingungan. “Para tamu ini mau dipersilakan duduk di mana?” itu mungkin pikir mereka. Para tamu yang baru datang ini juga tak kalah bingung dan gelisahnya. Saya yang duduk tak jauh dari para penyambut tamu merasakan hal yang sama. Maklum, saya kan tetangga yang punya hajat? Memberikan tempat duduk saya gak mungkin. Apalagi tempat duduk orang lain. Melihat-lihat sekitar, akhirnya saya menemukan bahwa teras rumah saya masih kosong. Akhirnya para tamu yang baru datang tadi saya persilakan duduk di teras rumah saya. Nggak pakai kursi memang, lesehan!

Sahabat, itulah bedanya lesehan dan kursi. Dalam sistem lesehan, ada kebersamaan dan semangat berbagi. Longgar atau berdesakan dirasakan bersama. Longgar ataupun berdesakan, selalu ada ruang untuk berbagi dengan orang lain. Tinggal geser sedikit, tempatpun tersedia.

Bagaimana dengan sistem kursi? Bisa jadi dalam sistem kursi ada semangat kebersamaan dan berbagi. Namun semangat ini tidak didukung dengan “sistem” yang mendukung. Orang yang sudah duduk mungkin saja ingin berbagi dengan orang lain. Tapi berbagi pakai apa? Yang ada malah egoisme dan semangat keakuan. Bagi kalangan tertentu, kursi melambangkan status. Status yang terkadang harus diperoleh dengan pengorbanan. Jadi, tidak heran jika seseorang sudah mendapatkan tempat duduk (kedudukan) tertentu, susah baginya untuk melepaskan kedudukan itu. Lihat saja fenomena yang terjadi dalam praktik kenegaraan kita. Berebut kursi kekuasaan dengan segala cara sudah lazim di negeri ini. Tidak cukup dengan satu kursi, kursi-kursi yang lainpun diduduki juga. (Gimana cara duduknya, ya? Gak kebayang deh duduk di dua kursi, he he he).

Lesehan adalah budaya asli Indonesia. Semangat kebersamaan dan berbagi adalah asli Indonesia. Di tengah kondisi bangsa yang belum juga beranjak dari keterpurukan, rasanya kita perlu kembali kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagaimana yang kita pelajari sejak berada di bangku SD kala itu. Semoga bangsa ini segera merdeka semerdeka-merdekanya.

 

yang sedang ngelantur sok mikirin bangsanya
@dIeN