Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …

Antara Lesehan dan Kursi

2 Comments

ruang tamu lesehanMalam itu saya menghadiri undangan seorang kerabat. Memperingati 100 hari wafatnya ayahnya, itulah hajat kerabat saya itu. Datang lebih terlambat daripada tamu-tamu lainnya, maklum rumah saya beda kampung dengan kerabat saya tadi, membuat saya bingung hendak memilih tempat duduk. Kala itu, tempat hajatan ditata dengan sistem lesehan. Tikar dan karpet digelar di ruang tamu, teras, dan halaman rumah.

Untunglah kerabat saya datang memecah kebingungan saya. Dia menghampiri dan mempersilakan saya masuk di ruang tamu. Agak gak enak juga sih melangkahi para tamu yang sudah duduk bersila di halaman dan teras yang sudah penuh itu. Tapi saya terus saja berjalan menuju ruang tamu sembari menyalami para tamu di sepanjang jalan. Sebenarnya bukan jalan, sih. Yang saya sebut jalan di sini maksudnya adalah ruang yang disediakan para tamu yang telah duduk dengan sedikit menggeser tempat duduknya. Berdesakan. Ruang tamu ternyata tidak kalah penuhnya dengan teras dan halaman. Kembali saya bingung mau duduk di mana. Salah seorang tamu ternyata memahami kegelisahan saya. Sambil menggeser sedikit duduknya, dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Ajaib, ternyata cukup!

Di malam yang lain, saya juga menghadiri undangan seorang tetangga. Undangan walimatul urusy. Kali ini saya tidak datang terlambat. Maklum, kan yang punya hajat tetangga sendiri. Kalau terlambat mah kebangetan, kan? He he he. Sambil menunggu acara dimulai, saya mengamati keadaan sekitar. Macam-macam tingkah pola para undangan. Ada yang minum, ada yang ngobrol, ada yang merokok, dan ada juga yang tersiksa dengan asap rokok tetangga duduknya. Yang terakhhir tadi itu saya, he he he. Semakin lama semakin banyak undangan yang hadir. Saya amati, seluruh kursi sudah terisi. Tidak lama berselang, acarapun dimulai.

Baru setengah jalan pembawa acara membuka acara, berdatangan beberapa tamu undangan. Melihat semua kursi telah terisi, para penyambut tamu kebingungan. “Para tamu ini mau dipersilakan duduk di mana?” itu mungkin pikir mereka. Para tamu yang baru datang ini juga tak kalah bingung dan gelisahnya. Saya yang duduk tak jauh dari para penyambut tamu merasakan hal yang sama. Maklum, saya kan tetangga yang punya hajat? Memberikan tempat duduk saya gak mungkin. Apalagi tempat duduk orang lain. Melihat-lihat sekitar, akhirnya saya menemukan bahwa teras rumah saya masih kosong. Akhirnya para tamu yang baru datang tadi saya persilakan duduk di teras rumah saya. Nggak pakai kursi memang, lesehan!

Sahabat, itulah bedanya lesehan dan kursi. Dalam sistem lesehan, ada kebersamaan dan semangat berbagi. Longgar atau berdesakan dirasakan bersama. Longgar ataupun berdesakan, selalu ada ruang untuk berbagi dengan orang lain. Tinggal geser sedikit, tempatpun tersedia.

Bagaimana dengan sistem kursi? Bisa jadi dalam sistem kursi ada semangat kebersamaan dan berbagi. Namun semangat ini tidak didukung dengan “sistem” yang mendukung. Orang yang sudah duduk mungkin saja ingin berbagi dengan orang lain. Tapi berbagi pakai apa? Yang ada malah egoisme dan semangat keakuan. Bagi kalangan tertentu, kursi melambangkan status. Status yang terkadang harus diperoleh dengan pengorbanan. Jadi, tidak heran jika seseorang sudah mendapatkan tempat duduk (kedudukan) tertentu, susah baginya untuk melepaskan kedudukan itu. Lihat saja fenomena yang terjadi dalam praktik kenegaraan kita. Berebut kursi kekuasaan dengan segala cara sudah lazim di negeri ini. Tidak cukup dengan satu kursi, kursi-kursi yang lainpun diduduki juga. (Gimana cara duduknya, ya? Gak kebayang deh duduk di dua kursi, he he he).

Lesehan adalah budaya asli Indonesia. Semangat kebersamaan dan berbagi adalah asli Indonesia. Di tengah kondisi bangsa yang belum juga beranjak dari keterpurukan, rasanya kita perlu kembali kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagaimana yang kita pelajari sejak berada di bangku SD kala itu. Semoga bangsa ini segera merdeka semerdeka-merdekanya.

 

yang sedang ngelantur sok mikirin bangsanya
@dIeN

Advertisements

2 thoughts on “Antara Lesehan dan Kursi

  1. lesehan, lebih bebas,
    mau medongkrong, metingkrang, bisa,
    mau selonjoran, rebahan, juga asyik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s