Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Repot

Repot mengandung arti sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunannya, misalkan “merepotkan” mengandung arti menjadikan repot, atau membuat orang lain menjadi sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunnya lagi, “kerepotan”, memiliki arti kesibukan atau kewalahan.

Repot. Siapa sih di dunia ini yang tidak merasa repot? Sejak bangun pagi saja kita sudah repot mengurusi diri sendiri. Bangun pagi, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Setelah mandi kita tolong ibu yang repot mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya. Mempersiapkan sarapan pagi, mempersiapkan keperluan sekolah untuk anak-anaknya, bahkan ia lupa mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Repot? Ya, pasti repot.

Bicara tentang ibu, tentang orang tua. Orang tua mana sih yang tidak repot mengurusi anaknya? Mengurusnya ketika masih bayi. Mendampingi tumbuh kembangnya ketika balita hingga masuk sekolah. Sedari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan sampai sekolah tinggi. Pasti repot.

Bagaimana tidak repot? Ini adalah gambaran aktivitas orang tua yang repot mengurusi anak-anaknya. Menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan bekal sekolah, mengantar anaknya ke sekolah. Pulang mengantar anak, mengurusi rumah. Menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika. Repot? Ya, pasti repot. Itu gambaran ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Bagaimana jika mereka bekerja? Selain aktivitas di atas, mereka juga repot mengurusi kerjaan kantornya. Untuk apa dan untuk siapa? Tentu saja demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Itu jika anak-anak mereka masih anak-anak. Bagaimana kalau mereka sudah dewasa? Yang namanya orang tua, masih saja mau berepot-repot mengurusi anaknya. Membuatkan rumah, lah. Membelikan mobil, lah. Mencarikan jodoh, lah, dan lah lah yang lain. Pokoknya, jangan sampai anak-anak mereka repot dengan dirinya. Cukuplah orang tua saja yang repot.

Bagaimana kalau anak sudah punya rumah tangga sendiri, apakah orang tua mau berhenti merepotkan dirinya untuk anaknya? Ternyata, mereka tidak mau berhenti merepotkan diri meskipun sudah dicegah oleh anak-anaknya. “Aku memberikan ini bukan untuk kamu, koq. Ini untuk cucuku,” kilah orang tua. Bukan hanya untuk anaknya, bahkan untuk anak-anak dari anaknya, untuk cucu-cucunya.

Repot? Ya, pasti repot. Tapi itulah orang tua. Serepot apapun, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Saya tegaskan, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Koq bisa? Itu tidak lain karena kasih sayang. Mereka begitu mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Serepot apapun, selelah apapun, secapek apapun, demi anak-anaknya, mereka rela asalkan anak-anaknya bahagia. Kasih sayang orang tua sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Itulah kata pepatahnya. Sekali lagi, mereka sama sekali tidak kerepotan.

Lantas, bagaimana sang anak memandang kerepotan orang tua ini? Sebagai anak, adalah tugasnya untuk tidak merepotkan orang tuanya. Ketika dewasa menjelang menikah, carilah jodoh kita sendiri, tidak usah merepotkan orang tua mencarikan untuk kita. Ketika belum punya rumah, bekerjalah yang giat mencari nafkah, belilah rumah walaupun lewat KPR. Atau bangunlah rumah sendiri secara bertahap sesuai uang yang kita punya. Ketika ingin punya mobil, belilah mobil sesuai dengan kemampuan keuangan. Tidak harus baru, yang penting nyaman. Tidak usah kita merepotkan orang tua untuk mencukupi itu semua buat kita. Karena, sekali lagi, tugas anak terhadap orang tua adalah tidak merepotkan mereka.

Tapi apa bisa seperti itu? Adalah sudah tabiat orang tua untuk selalu merepotkan diri untuk anak-anaknya. Meskipun tidak dapat mencarikan jodoh sampai benar-benar ketemu, mereka pasti sudah telisik sana dan telisik sini demi anaknya mendapatkan jodoh. Berdoa kepada Allah supaya anaknya mendapatkan jodoh terbaik. Meskipun tidak dapat membelikan rumah, tapi setidaknya menyumbangkan uang untuk sekadar membelikan semen, misalnya. Meskipun tidak berupa mobil utuh, minimal menyumbangkan uang untuk uang muka, contohnya. Ya, itulah orang tua. Tidak pernah berhenti repot untuk anak-anaknya. Apakah mereka merasa kerepotan? Oh, tidak. Sama sekali  tidak merasa kerepotan. Karena di balik kerepotan itu mereka merasakah kebahagiaan. Merasa bahagia karena anak-anaknya bahagia.

Di sinilah letak keseimbangan. Di satu sisi, anak tidak mau merepotkan orang tuanya. Di sini yang lain, tanpa dimintapun, orang tua akan berepot-repot ria untuk kebahagiaan anak-anaknya. Keseimbangan ini akan terus terjaga ketika masing-masing menjalaninya dengan tulus dan ikhlas. Bukan karena aji mumpung atau memanfaatkan pihak yang lain. Kita berdoa semoga kerepotan orang tua kita dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik.

Ya, Allah. Ampunilah kami. Ampuni kedua orang tua kami. Sayangi mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kecil hingga kini. Berikanlah mereka kebahagiaan. Di dunia, juga di akhirat. Aamiin.

(@dIeN’s)