Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Pribadi Yang Memberikan Kemanfaatan – Renungan Pergantian Tahun

Surabaya, 30 Desember 2016. Tahun 2016 kian mendekati masa berakhirnya. Besok lusa adalah tahun yang baru, tahun 2017.  Tepat pada tanggal 1 Januari 2017, pada tanggal berapapun Anda dilahirkan, usia Anda pasti bertambah. Ada yang pertambahannya dalam hitungan hari, hitungan bulan, atau bahkan tahun. Bilangan usia memang bertambah. Tetapi sejatinya, bertambahnya bilangan tahun adalah berkurangnya jatah.

renunganJatah apaan? Ya, jatah masa kontrak kita hidup di dunia. Memang tak satupun kita yang mengetahui secara pasti berapa sih masa kontrak kita di dunia. Tapi satu hal yang pasti, suatu saat nanti kita pasti meninggalkan alam dunia ini. Lantas bagaimana kita menyikapi pergantian tahun yang sejatinya pertanda berkurangnya jatah itu?

Ada banyak cara yang dilakukan banyak orang untuk menyikapi pergantian tahun itu. Sebagian besar adalah seperti yang dapat kita saksikan di sekitar kita dan begitu luar biasa diekspos oleh media. Berkumpul di ruang terbuka, menyalakan kembang api raksasa, berkonvoi di jalan-jalan dengan knalpot motor yang meraung-raung, meniup terompet, membunyikan klakson, dll, dll. Mereka itu sedang merayakan berkurangnya kontrak hidup, lho! Sebagian besar, begitulah cara merayakan pergantian tahun.

Tetapi, menjadi sebagian kecil yang tidak mengikuti kecenderungan orang banyak bukanlah sebuah keanehan, kan? Pergantian tahun akan lebih bermakna jika diisi dengan perenungan. Perenungan tentang seberapa bermanfaatnyakah diri ini bagi orang lain. Bukankan sebaik-baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Jika di tahun lalu, kita sering membuat orang bersedih, sering membuat orang sakit hati, sering membuat orang bercacimaki, tentu harus ada yang diperbaiki pada diri ini. Namun, jika di tahun lalu kita membuat orang tersenyum, membuat orang tertawa, membuat orang bahagia, maka bersyukurlah. Berdoalah agar di tahun mendatang, kita semakin menjadi pribadi yang menyenangkan, pribadi yang membahagiakan, pribadi yang mencerahkan.

Pergantian tahun adalah momentum yang tepat untuk merubah diri. Merubah diri menjadi pribadi yang memberikan sebesar-besarnya kemanfaatan.

@dIeN’s


Leave a comment

Memantaskan Diri Menjadi Pemimpin

PemimpinHari Rabu, tanggal 1 Juli 2015. Waktu bagi saya untuk berangkat ke Pusdiklat Sekretariat Negara di Cilandak, Jakarta. Ada pelatihan bagi para Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PPBJP) yang diselenggarakan oleh LKPP. Maklum, PPBJP adalah jabatan fungsional baru. Untuk itu, perlu diadakan pelatihan agar para pemangku jabatan ini memahami hak-hak dan kewajiban-kewajibannya agar dapat melaksanakan pengadaan yang kredibel dan akuntabel.

Tiba di ruang tunggu Bandara Juanda sekitar pukul 11.33 WIB, saya langsung menuju toilet. Maaf, sudah ada yang musti dibuang untuk sedikit meringankan tubuh. Sebuah “ritual” yang saya tidak tahu kenapa selalu ingin saya lakukan selepas tiba di tempat baru. Lorong menuju toilet ternyata melewati sebuah mushola. Dari luar mushola saya melihat seorang wanita yang sedang mengenakan mukena, mengingatkan saya pada waktu Dhuhur. Maka, pada saat saya melakukan “ritual” terbersit dalam hati saya untuk mengambil wudlu yang mendirikan sholat selepas “ritual” itu selesai.

Di tengah-tengah wudlu, saya mendengar seorang pria, sebut saja namanya Ahmad, mengumandangkan adzan dari dalam mushola. Dari pakaiannya, Ahmad ini bukanlah pegawai bandara, namun orang kebanyakan yang juga akan melakukan perjalanan dengan pesawat udara. Setelah adzan selesai, tak lama ia mengumandangkan iqomat. Ada tiga pria di saat itu. Ahmad, saya, dan seorang pria lagi yang sudah bapak-bapak. Saya sendiri, sih, bukan bapak-bapak, he he he. Masing-masing kami bertiga saling mempersilakan untuk menjadi imam sampai pada akhirnya Si Bapak maju untuk siap-siap menjadi imam. Namun, sebelum takbiratul ihram, Ahmad mengingatkan Si Bapak bahwa kaki Sang Bapak, bagian kaki yang seharusnya terbasuh oleh air wudlu, ternyata masih kering. Awalnya Sang Bapak tidak mengerti apa maksud Ahmad. Begitu juga dengan saya. Namun, tidak lama berselang kami menyadari bahwa wudlu Sang Bapak tidak sempurna. Kalau beliau meneruskan diri menjadi imam maka sholat kami bertiga tidak sah. Dengan rela hati Sang Bapak mundur dan mengulangi wudlunya.

Ditunggu beberapa menit, Sang Bapak belum juga kembali. Melihat kekosongan “kursi” imam ini, akhirnya saya mempersilakan Ahmad untuk menjadi imam. Awalnya dia menolak. Tapi setelah saya memberi isyarat persetujuan, akhirnya dia bersedia menjadi pemimpin sholat kami. Di dalam hati saya berkata bahwa Ahmad lebih layak menjadi imam. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk itu. Sejak awal ia telah mengondisikan dirinya untuk itu. Dimulai dari kumandang adzan, iqomat, sampai mengingatkan Sang Bapak tadi, tampak jelas bahwa ia telah siap menjadi imam. Ia telah memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin sholat kami di mushola Ruang Tunggu Bandara Juanda siang itu.

Sabahat, pernahkah Anda mendapati bahwa sebagian besar orang lebih sibuk berkeinginan untuk menjadi pemimpin? Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. Melobi sana, melobi sini. Menyikut sana, menyiikut sini. Menjilat sana, menjilat sini. Dan lain-lain dan lain-lain cara yang menurut saya buang-buang energi. Satu hal yang mereka lupakan. Mereka lupa untuk memantaskan dirinya menjadi pemimpin. Tak heran ketika mereka benar-benar menjadi pemimpin, seringkali mereka gapim, gagap kepemimpinan, tidak tahu apa yang musti dilakukan dengan amanah kepemimpinan itu. Mudah-mudahan Anda dan saya bukanlah bagian dari mereka.

Kepemimpinan bukanlah barang instan. Ada proses yang harus dilalui untuk sesorang menjadi pemimpin. Ada proses untuk memantaskan diri untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan, yang dalam arti sempit disebut jabatan, memang menggiurkan bagi sebagian besar orang. Maklum, pada umumnya ada kenikmatan materi yang menyertainya. Namun, jangan sampai energi kita habiskan untuk mengejar jabatan. Justru, biarkanlah jabatan itu mengejar kita.

Caranya? Pantaskanlah diri Anda. Persiapkanlah diri Anda untuk menjadi pemimpin. Kuasai aspek teknis, kuasai aspek manajerial, dan kuasai aspek strategis dari bidang pekerjaan Anda. Bukan untuk dinilai apakah Anda pantas atau tidak menjadi pemimpin. Akan tetapi semata-mata ikhlas untuk memberikan yang terbaik dari diri Anda untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi orang lain dan organisasi Anda. Tidak perlu buang-buang energi untuk mempromosikan diri. Tidak perlu sibuk untuk mencari posisi. Promosi dan posisi akan dengan sendirinya menghampiri Anda. Insha-Allah amanah.

Ba’da Shubuh
Cilandak, 3 Juli 2015,
@dIeN


Leave a comment

Warna Dunia Tergantung Dari Cara Memandangnya

bola-duniaSore itu, selepas Maghrib, anak bungsu saya minta dibelikan es krim. Menaiki motor matic kesayangan istri, dia berdiri di depan, sedangkan sang kakak duduk di belakang. Kebiasaan kami adalah setiap naik motor, ke mana saja, meskipun dekat, saya budayakan anak-anak memakai kaca mata. Jaga-jaga barangkali ada hewan kecil yang nyasar ke mata. Kurang lebih seminggu sebelumnya, mereka berdua saya belikan kaca mata untuk anak-anak. Kacanya berwarna ungu.

Pada setiap kesempatan, saya selalu menyisipkan pendidikan kepada anak-anak lewat apapun yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan usia mereka. Misalnya ketika jalan-jalan pagi saya tanyakan kepada si adik apa warna benda-benda di sekitarnya. Juga terkadang saya tanyakan apa bentuknya bagaimana. Dan saya berusaha untuk menghubungkan pengalaman mereka dengan agama. Misalnya matahari ciptaan siapa. Yang menerangi malam dengan cahaya bulan itu siapa. Yang membuat lampu yang menyebabkan ruangan menjadi terang siapa, dan lain-lain.

Begitu juga dalam perjalanan beli es krim tadi. Kepada adik saya tanyakan bulan itu bentuknya apa. Bulat, dia menjawab. “Terus, warnanya apa”? lanjut saya. “Ungu” dengan polosnya ia menjawab. “Lho, koq ungu?” protes saya atas jawabannya.  “Iya, Yah, ungu!”, dengan nada lebih tinggi seolah-olah tidak terima dengan protes ayahnya. Rupanya sifat tidak mau disalahkan si adik lebih kuat daripada ayahnya, he he he. Karena protesnya itu saja jadi teringat bahwa adik sedang memaca kaca mata ungu. Makanya, apapun warna aslinya, semua jadi ungu dalam pandangan si adik. Baru ketika dia saya minta untuk melepas kaca matanya, dia menjawab warna bulan putih.

Belajar dari jawaban si adik tadi, rupanya begitulah warna dunia ini, tergantung bagaimana kita memandangnya. Tergantung dengan “kaca mata” apa kita melihatnya. Mau pakai “kaca mata” positif atau negatif. Kalau “kaca mata” negatif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun posistif, jadi negatiflah ia dalam pandangan kita. Apalagi kalau yang kita pandang itu dari sananya sudah negatif, jadi bertambah-tambah sifat negatifnya. Jika “kaca mata” positif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun negatif, jadi positiflah ia dalam pandangan kita. Hal yang negatifpun, jadinya akan menjadi positif jika “kaca mata” yang kita gunakan adalah “kaca mata” positif. Ada lagi “kaca mata” yang dapat kita pilih, “kaca mata” netral. Dengan “kaca mata” netral ini, semua yang dilihat akan tampak seperti apa adanya.

Bagaimana warna dunia tergantung pada pilihan “kaca mata” yang kita gunakan. Positif, negatif, atau netral, itu terserah kita. Tergantung pada warna apa yang kita inginkan.

Selamat memandang dunia.

Ciputat, 18 Maret 2015
@dIeN


Leave a comment

Pengalaman Kerja Tidak Selalu Positif

PENGALAMAN 1Membaca koran Hari Sabtu, saya jadi teringat ketika masih berburu lapangan kerja, kurang lebih 10 s.d. 13 tahun yang lalu. Koran Sabtu biasanya memuat banyak lowongan pekerjaan. Macam-macam kualifikasi yang ditentukan oleh perusahaan. Dari latar belakang pendidikan, pendidikan terakhir, batas usia, sampai dengan pengalaman kerja. Untuk kualifikasi yang terakhir ini, beberapa perusahaan mensyaratkan pengalaman minimal 5 tahun. Yang lain 4 tahun, 3 tahun, dst. Ada juga yang tidak mempertimbangkan pengalaman. Bahkan, mereka lebih menyukai yang tidak punya pengalaman, alias baru lulus.

Tentu persyaratan pengalaman ini disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan bersifat teknis administratif, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang berpengalaman. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan menuntut kreasi dan inovasi, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, membentuk karakter karyawan yang tidak berpengalaman akan lebih mudah daripada mereka yang berpengalaman. Memang, berpengalaman atau tidak belum tentu menentukan kinerja seorang karyawan. Masih ingat dengan senior yang protes karena tidak dipromosikan, https://syaifudins.wordpress.com/2013/07/19/pengalaman-anda-cuma-satu-tahun/? Itulah kondisi yang kita lihat saat ini di instansi-instansi swasta, apalagi di lingkungan instansi pemerintah. Namun sebagian besar perusahaan tidak mau mengambil risiko dengan merekrut mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, pengalaman adalah jaminan kinerja.

Sekarang, mari kita cermati apakah pengalaman selalu memberikan dampak positif terhadap kinerja karyawan dan kinerja perusahaan. Pengalaman akan memberikan dampak positif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan tidak menutup diri dari dinamika yang berkembang. Dengan membuka diri terhadap dinamika organisasi, maka karyawan akan mengombinasikan pengalamannya dengan dinamika itu. Ia akan menggunakan pengalamannya jika masih relevan dengan dinamika perusahaan. Namun ia akan tinggalkan pengalamannya jika tidak relevan lagi. Ia akan selalu berusaha mencari peluang, berdasarkan pengalamannya dan kondisi riil yang ia hadapi saat ini, untuk mengembangkan dirinya. Muncullah ide-ide baru, cara-cara baru, metode-metode baru yang membuat pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Dan tentu, ini akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dari sisi karyawan, pengombinasian ini akan memperkaya pengalamannya. Dengan demikian, si karyawan akan memiliki pengalaman baru.

Pengalaman akan memberikan dampak negatif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan menutup diri dari dinamika yang berkembang. “Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun, masalah ini harus dipecahkan dengan cara ini, bukan dengan cara itu. Pokoknya harus dengan cara ini, titik.” Ungkapan seperti merupakan mental block bagi karyawan untuk berkembang. Kondisi seperti ini, lebih parahnya, tidak disadari oleh si karyawan. Akhirnya, pengalaman si karyawan cuma itu-itu saja. Tidak ada pengalaman baru.

Mental block adalah kondisi mental yang menghalangi atau membatasi seseorang untuk bergerak atau berubah. Mental block disebabkan oleh kemauan hawa nafsu, keengganan untuk keluar dari zona nyaman, kurangnya pengetahuan, kemalasan, atau kombinasi dua atau lebih di antara penyebab-penyebab ini. Tetangga sebelah, http://www.motivasi-islami.com/membuka-mental-block-tidak-sreg/, mengistilahkan mental block sebagai perasaan “tidak sreg”.

Jika “tidak sreg” disebabkan oleh hawa nafsu, maka Anda harus berjihad untuk melawannya. Kondisi nyaman adalah dambaan semua orang. Namun merasa puas dengan kondisi nyaman akan menutup Anda dari peluang untuk mendapatkan kondisi yang lebih nyaman. Anda tidak mau berubah karena kurangnya pengetahuan? Di zaman informasi seperti ini, alasan kurangnya pengetahuan rasanya tidak relevan lagi. Dengan kesaktiannya, Mbah Google akan mengarahkan Anda kepada informasi yang Anda butuhkan. Tinggal bagaimana Anda mengolah informasi itu menjadi pengetahuan. Malas berubah? Dikutip dari “Hikmah dalam humor kisah dan pepatah”, jilid 3, karya Abdul Aziz Salim Basyarahil, Aristoles berkata kepada muridnya yang malas, “Kalau demikian tidak ada jalan lain bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan.

Anda sedang “tidak sreg”? Jangan sampai hidup Anda dikuasai oleh “tidak sreg”. Anda tidak akan pernah berkembang, sebab apa pun nasihatnya jawabannya selalu “tidak sreg”. Mulai sekarang, saat dalam hati mengatakan tidak sreg, cobalah evaluasi apakah benar tidak sreg atau karena 4 penyebab di atas. Yang Anda perlukan adalah kejujuran dalam mengevaluasi diri, apakah Anda memperturutkan hawa nafsu, betah di zona nyaman, kurang pengetahuan, atau malas. Mulailah membuka diri dengan pengalaman-pengalaman perusahaan atau pengalaman-pengalaman orang lain. Bisa jadi pengalaman-pengalaman mereka, atau pengalaman-pengalaman mereka yang dikombinasikan dengan pengalaman Anda, adalah praktik terbaik untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi.

Kesimpulannya, pengalaman tidak selalu memberikan dampak positif. Mengelolanya dengan cerdas adalah solusi agar pengalaman selalu memberikan dampak positif bagi Anda dan perusahaan, instansi, atau organisasi apapun di mana Anda berkarya.

Salam,

@dIeN’s


Leave a comment

Silaturahmi Itu …

hand-shake-loveTulisan ini saya buat berdasarkan kisah nyata yang dialami istri dan anak bungsu saya, Norin. Beberapa hari yang lalu, Norin mengalami kesulitan, maaf, Buang Air Besar (BAB). Dua hari, bahkan sampai empat hari, “itu”-nya, sampah dalam tubuhnya tidak bisa keluar. Berbagai cara telah kami lakukan agar itunya lancar keluar. Dari memberinya makan sayuran, buah-buahan, dan langkah terakhir, memberikan obat pelancar BAB yang dimasukkan lewat anusnya. Melihat penderitaan Norin saat berusaha keras untuk mengeluarkan ampas itu membuat kami tidak tega. Kondisi ini diperparah oleh sikap Norin yang bersikeras tidak mau jongkok saat mau mengeluarkan itunya. Kejadian seperti ini berlangsung kurang lebih satu bulan. Dan kondisi seperti ini membuat Norin seperti tidak percaya diri.

Sedikit bergeser dari masalah yang dihadapi Norin, akhir-akhir ini istri saya lebih intensif bersilaturahmi dengan sahabat barunya. Sebut saya namanya Ira, sesama wali murid di lembaga pendidikan di mana kakaknya Norin, Salsa, bersekolah. Setelah mengantarkan Salsa, terutama di Hari Jumat dan Sabtu, istri saya tidak langsung pulang tetapi berkunjung ke rumah Ira sambil menunggu jam pulang Salsa. Tanggung katanya karena di dua hari itu jam pulang Salsa adalah pukul 10.00 WIB. Kebetulan rumah Ira tidak jauh dari lokasi sekolah. Tentu saja si bungsu tidak pernah ketinggalan saat mamanya mengantar kakaknya. Begitu juga saat berkunjung ke rumah Ira.

Ira tinggal di rumah itu bersama tiga orang anak. Suaminya bekerja di Lampung sehingga tidak bisa pulang setiap bulan, apalagi setiap hari. Makanya di rumah itu ia juga ditemani oleh adiknya. Sebut saja namanya Dara. Dua anaknya bersekolah di lembaga yang sama dengan Salsa. Sedangkan anaknya yang paling kecil, sebut saja namanya Queen, berumur kira-kira 2 tahun, setahun lebih muda daripada Norin. Sikapnya yang tidak mau diam membuat Norin cocok dan nyawan berkawan dengan Adik Queen ini.

Ira dan Dara ini ternyata para wanita yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi. Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, ia bersama adiknya sedang merintis sebuah wirausaha kuliner. Kecil memang skalanya. Mereka membuat kue, pizza kering mereka menyebutnya, berdasarkan pesanan dari teman-teman mereka. Ada yang pesan lewat telepon. Ada juga yang pesan lewat jejaring sosial. Mereka yang masak sendiri, membuat label sendiri, mengemas sendiri dan lain-lain sendiri. Bahkan,  mereka sendiri yang mengartar kue-kue itu sampai depan pintu rumah pemesan. Setiap hari Minggu, mereka bahkan menjajakan kue buatan mereka di pusat-pusat keramaian minggu pagi. Belakangan mereka menawarkan kue buatan mereka ke kantin-kantin dalam instansi pemerintah. Dan yang terakhir ini membuat mereka berdua semakin sibuk.

Sepintas melihat kesibukan mereka, istri saya berpikir “Koq nggak capek yang mereka berdua”? Membayangkan mereka memasak saja membuat istri saya capek duluan, apalagi sampai menjajakan kue-kue itu. Maklum, istri saya ini kurang suka masak-memasak. Tapi sekali dia memasak, dan karenanya dia harus ekstra keras belajarnya, rasa masakannya ibarat hitungan 1-3-4-5.  Tidak ada duanya! Bolehlah sedikit menarsiskan istri, he he he.

Usut punya usut, akhirnya istri saya memahami bahwa usaha kakak beradik ini dilandasi oleh impian yang besar. Dan impian besar itu membesarkan semangat mereka. Pernah suatu saat Ira jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Sidoarjo. Kebetulan di sana ada sebuah cafe yang sudah tidak dipakai lagi. Lokasinya berhadap-hadapan dengan P***a H*t, sebuah merek dagang yang telah mendunia. Ira menepukkan tangannya di dinding cafe itu sambil berkata dalam hati, “Kamu jangan sampai di sewa orang. Tunggu sampai aku membelimu dan membuka “Pizzalamazza” di sini.”

Dan semangat itu menular kepada istri saya. Sejak keluar dari tempat kerjanya yang dulu demi memperhatikan pendidikan anak-anak kami, praktis istri saya tidak punya penghasilan sendiri. Dan dari silaturahmi dengan kawan-kawannya, termasuk dengan Ira dan adiknya, ibu dari anak-anakku ini sekarang sudah punya usaha sendiri. Skala kecil, memang. Tapi mudah-mudahan yang kecil itu berkembang menjadi besar, besar, dan besar. Rupanya benar apa yang disampaikan para ulama yang menyatakan bahwa  silaturahmi itu melancarkan rezeki dan memperpanjang umur.

Lho, apa hubungannya dengan Norin seperti yang ditulis di bagian awal tulisan ini? Sabar, Mas, Mbak Yu. Mari kembali kepada Norin dan masalah BAB-nya. Ketika berkunjung ke rumah Ira, Norin mengalami kembali susah BAB. Seperti yang ditunjukkannya di hari-hari sebelumnya, saat itu, ia pergi menyendiri, mengejan sekuat tenaga sambil berdiri, tidak mau jongkok, dan mukanya memerah padam. Melihat itu, Ira tidak tega, panik. Rupanya Norin melihat kepanikan itu dan dampaknya lebih luar biasa daripada saat ia melihat kekhawatiran kami di hari-hari sebelumnya saat ia mengalami kejadian seperti itu. Mamanya langsung membawa Norin ke kamar mandi, menjongkokkannya di atas WC dan akhirnya ritual itu berakhir sukses dengan keluarnya “itu” yang telah bertahan selama empat hari. Lega sekali rasanya.

Hari-hari berikutnya, demi memupuk semangat wirausaha dan mewujudkannya dalam tindakan nyata, istri saya berkunjung lagi ke rumah Ira. Kebetulan Dara juga punya usaha lain yang istri saya tertarik bergabung degannya. Bersama Norin, tentunya. Di tengah aktivitas main bersama Queen, Norin pingin BAB dan alhamdulillah lancar tanpa hambatan. Di atas WC dan jongkok. Kejadian yang sulit kami wujudkan sebelumnya. Sampai-sampai keluar guyonan dari Ira, “Sudah lah, Mbak. Besok-besok kalau Norin mau BAB bawa ke sini aja.”

Hari-hari berikutnya, di rumah, setiap ingin BAB Norin selalu minta melakukannya di WC dan jongkok. Rupanya, kejadian di rumah Ira menjadi momentum bagi Norin untuk merubah perilaku BAB-nya.

Rupanya, silaturahmi tidak hanya melancarkan rezeki, tetapi juga melancarkan BAB.

Anda orang tua yang mengalami masalah serupa? Cobalah bersilaturahmi!

Salam,

@dIeN’s


3 Comments

Nuzulul Quran – Belajar Menjadi Hamba yang Bersyukur

cover-quran1Kemarin sore, kantor kami mengadakan pengajian dalam rangka memperingati Nuzulul Quran. Sangat menarik apa yang disampaikan oleh penceramah. Salah satunya beliau menyampaikan bahwa kaum yang tidak beriman kepada Allah senantiasa melakukan usaha yang sistematis dan kontinu untuk menjauhkan kaum muslimin dari Al Quran.

Antara lain dengan menyuguhkan semua hal yang membuat mata terlena. Pornografi dalam berbagai kemasan disajikan agar mata kaum muslimin tidak ”melihat” Al Quran. Yang kedua adalah dengan menyuguhkan semua hal yang mengenakkan telinga. Musik yang menghentak atau musik lembut yang menghanyutkan sehingga terasa lebih merdu daripada lantunan Al Quran. Dan yang ketiga adalah dengan menyuguhkan semua hal yang membuat mulut kaum muslimin merasa nikmat. Bukan hanya lewat makanan, tetapi juga tayangan-tayangan yang membuat kaum muslimin terseret dalam ghibah dan fitnah sehingga mereka tidak sempat menggunakan lisannya untuk membaca Al Quran.

Namun, lanjut penceramah, Allah-lah yang menurunkan Al Quran dan Allah pulalah yang menjaga kesuciannya. Terbukti, sampai hari ini, setiap kali Al Quran dinodai, semakin tampak pula kemurniannya. Semakin tampak pula rahasia-rahasia ilmu Allah di dalam Al Quran. Subnanallah. Semoga kita semakin mencintai Al Quran. Amin.

Selepas ceramah, acara dilanjutkan dengan berbuka dengan makanan ta’jil dan diteruskan dengan sholat Maghrib berjamaah. Selepas sholat Maghrib, acara berbuka dilanjutkan dengan makanan utama, nasi dan pelengkapnya. Maklum, orang Jawa. Bukan makan namanya kalau belum makan nasi, he he he. Setelah mengambil nasi kotak dari panitia, saya memilih bergabung dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu duduk lesehan memakan nasi mereka. Tampak menikmati sekali mereka.

Saya memilih duduk di sisi paling kiri di antara mereka. Melihat isi kotak, saya semakin berselera. Tanpa menunggu lama, tangan saya langsung bekerja melaksanakan tugasnya. Hanya tangan, tanpa bantuan sendok. Lebih nikmat, kata kawan di yang dukuk tepat di kanan saya. Di tengah-tengah makan, tanpa sengaja saya melirik sisi kiri saya, di bagian bawah. Ada air menggenang kurang lebih 10 cm-an persegi, berjarak kira-kira 2 cm dari tempat saya duduk. Dalam hati saya berkata, ”Alhamdulillah ya, Allah. Ini semua atas rahmat-Mu. Jika tidak, maka genangan air ini sudah saya duduki. Terima kasih Engkau telah menyelamatkan saya dari kecelakaan.”

Kawan, bisa jadi apa yang hati saya katakan terlalu berlebihan, lebay kata anak sekarang. Basah oleh genangan air 10 cm persegi mungkin jauh dari kriteria celaka. Namun, bukankah semakin kita bersyukur, semakin banyak pula kenikmatan yang akan Allah berikan kepada kita? Dan, jika kita tidak bersyukur, Allah akan menurunkan azab-Nya? Naudzubillah. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur.

Bersyukur karena sampai detik ini kita masih meyakini bahwa tuhan kita adalah Allah. Bersyukur karena Allah mengutus rosul sehingga manusia menemukan model yang patut diteladani. Bersyukur karena Allah telah menurunkan manual book prakehidupan, kehidupan, dan pascakehidupan yang paling lengkap dan selalu up to date, Al Quran. Manual book yang senantiasa Allah jaga kemurniannya. Bersyukur karena kita dibekali otak yang selalu berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Bersyukur karena Dia memberikan kenikmatan yang kita tidak mampu menghitugnya. Itu semua hanyalah karena kasih sayang Allah, rohmat Allah. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur. Amin.

@dIeN


1 Comment

Pengalaman Anda Cuma Satu Tahun

promotionSuatu ketika, dalam sebuah divisi di sebuah perusahaan swasta, seorang Manager berencana mempromosikan beberapa stafnya untuk menduduki posisi Supervisor. Supervisor dalam perusahaan itu adalah orang yang langsung membawahi staf. Di atas supervisor ada Manager. Di atas manager ada Kepala Divisi, dan seterusnya sampai posisi tertinggi Direktur Utama.

Didapatilah dua orang yang potensial di antara delapan staf yang ada. Proses seleksi ini dilakukan secara tertutup tanpa sepengetahuan staf-staf yang lain. Bahkan dua orang staf inipun tidak mengetahui jika mereka sedang dalam proses seleksi untuk menjadi supervisor. Setelah melalui tahapan tes kompetensi, dan beberapa tes yang lain, terpilihlah salah satu dari dua orang ini menjadi supervisor, menggantikan supervisor lama yang telah dipindahkan ke divisi yang lain. Pelantikan dilakukan secara sederhana, dengan syukuran sederhana, di hadapan manager dan seluruh staf bagian itu.

Tidak lama setelah pelantikan selesai, datanglah seorang staf senior, staf yang paling lama bekerja di situ, bahkan lebih lama daripada sang Manager, menghadap sang Manager. “Bos, ane ini kan yang paling lama bekerja di sini. Bahkan lebih lama daripada ente. Jauh sebelum ente bekerja di sini, ane ini sudah banyak berjasa bagi perusahaan ini!” protesnya dengan gayanya yang khas “senior” itu. “Semestinya ane yang lebih pantas menduduki jabatan supervisor. Bukan dia, anak ingusan yang baru empat tahun bekerja di sini. Ane ini sudah bekerja 10 tahun di sini. Ane yang lebih berpengalaman. Ini tidak adil!” protesnya berlanjut.

Setelah mempersilakan sang “senior” ini duduk, dengan kalem, sang Manager menjawab, “Memang Anda telah bekerja di perusahaan ini selama 10 tahun. Namun pengalaman Anda cuma satu tahun yang berulang selama 10 kali.” Dengan muka kecut, sang “senior” kembali ke tempat duduknya. Begitulah yang ia lakukan setiap kali koleganya mendapatkan promosi jabatan yang ia tidak bisa mendapatkannya tanpa berusaha meningkatkan kompetensinya.

So, Sahabat, berapa tahun pengalaman Anda?

@dIeN