Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Persaudaraan

Kala itu kami diundang salah seorang kerabat yang sedang punya hajat menikahkan putranya, walimatul uruys. Kebetulan semua petugas acara; pembawa acara, qori’, dan penceramah dan pembaca doa berasal dari kerabat yang punya hajat. Entah sudah direncakan atau tidak, tema tausyiah adalah tentang keluarga. Tetapi bukan untuk keluarga baru yang baru saja terbentuk, tetapi lebih tentang keluarga pada umumnya, dan terkhusus tentang saudara dan persaudaraan.

 

Saudara, kata penceramah, ada 2 (dua) golongan. Golongan pertama adalah saudara atas dasar hubungan biologis. Sedangkan golongan kedua adalah saudara bukan karena hubungan biologis. Saudara atas dasar hubungan biologis terdiri atas saudara nasabiah dan saudara hasabiah. 

 

Dalam pemahaman saya, saudara nasabiah adalah saudara kandung, baik sebapak atau beda bapak. Sedangkan saudara hasabiah, atau saudara berdasarkan hitungan, adalah misalnya anak dari paman atau bibi. Makanya dalam adat Jawa saudara hasabiah ada yang disebut dengan misanan, mindoan, mentelu, dan seterusnya. Jadi, berdasarkan hitungan. Misanan adalah anak dari paman atau bibi. Mindoan adalah anak dari misanan. Mentelu adalah anak dari mindoan, dan seterunya. Saudara golongan kedua, saudara non-nasabiah dan non-hasabiah adalah misalnya saudara ipar, suami/istri dari saudara ipar. Itu pemahaman yang saya tangkap dari penceramah.

 

Setelah menjelaskan golongan-golongan saudara, penceramah memberikan pesan betapa pentingnya menjaga persaudaraan. Cara menjaganya adalah dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Doa semacam ini adalah salah satu doa yang mustajabah;
  2. Memandang persaudaraan bukan berdasarkan harta;
  3. Mengutamakan saudara dibandingkan dengan orang lain. Untuk pesan yang satu ini, penceramah bahkan menegaskan bahwa persaudaraan nasabi lebih utama daripada persaudaraan islami.
  4. Menjaga agar persaudaran tidak terputus karena Allah akan mengadzab mereka yang memutuskan tali persaudaraan.

 

Akhir-akhir ini, beberapa di antara kita begitu mudahnya memutuskan tali persaudaraan hanya karena harta semata. Ini sering terjadi ketika kedua orang tua sudah meninggal dan mereka belum sempat membagi harta bendanya. Oleh sebagian besar orang tua, urusan ini sering disepelekan. Padahal hal ini adalah urusan yang penting. Jangan sampai sepeninggal orang tua, anak-anak berselisih masalah harta warisan sehingga jalan orang tua ke surga menjadi terhalang karena urusan dunia yang belum terselesaikan. Sebagai orang tua, hal ini musti diperhatikan terutama jika anak-anak kita sudah dewasa dan sudah bisa mengatur keuangan mereka sendiri. Sudah contoh yang terjadi dalam masyarakat kita. Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampai kejadian semacam itu menimpa keluarga kita.

 

Di luar sana, banyak yang menjadikan teman sebagai saudara. Di luar sana, banyak yang menjadikan orang yang baru dikenal sebagai saudara: saudara seolah-olah. Tidak ada salahnya. Ini bisa jadi karena perlakuan baik mereka tidak sebaik perlakuan saudara kita sendiri, atau tidak sebaik perlakuan kita terhadap saudara sendiri. Masak iya, kita justru lebih dekat dengan saudara seolah-olah dibandingkan dengan saudara sendiri. Jadi, mari kita kaji kembali sebagaimana kita berlaku baik terhadap saudara kita sendiri. Jika perlakuan itu kurang baik, mari kita perbaiki. Jika perlakuan itu sudah baik, mari ditingkatkan lagi. Lagi, lagi, dan lagi.

 

Salam Persaudaraan,

@dIeN’s


Leave a comment

Repot

Repot mengandung arti sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunannya, misalkan “merepotkan” mengandung arti menjadikan repot, atau membuat orang lain menjadi sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunnya lagi, “kerepotan”, memiliki arti kesibukan atau kewalahan.

Repot. Siapa sih di dunia ini yang tidak merasa repot? Sejak bangun pagi saja kita sudah repot mengurusi diri sendiri. Bangun pagi, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Setelah mandi kita tolong ibu yang repot mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya. Mempersiapkan sarapan pagi, mempersiapkan keperluan sekolah untuk anak-anaknya, bahkan ia lupa mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Repot? Ya, pasti repot.

Bicara tentang ibu, tentang orang tua. Orang tua mana sih yang tidak repot mengurusi anaknya? Mengurusnya ketika masih bayi. Mendampingi tumbuh kembangnya ketika balita hingga masuk sekolah. Sedari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan sampai sekolah tinggi. Pasti repot.

Bagaimana tidak repot? Ini adalah gambaran aktivitas orang tua yang repot mengurusi anak-anaknya. Menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan bekal sekolah, mengantar anaknya ke sekolah. Pulang mengantar anak, mengurusi rumah. Menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika. Repot? Ya, pasti repot. Itu gambaran ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Bagaimana jika mereka bekerja? Selain aktivitas di atas, mereka juga repot mengurusi kerjaan kantornya. Untuk apa dan untuk siapa? Tentu saja demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Itu jika anak-anak mereka masih anak-anak. Bagaimana kalau mereka sudah dewasa? Yang namanya orang tua, masih saja mau berepot-repot mengurusi anaknya. Membuatkan rumah, lah. Membelikan mobil, lah. Mencarikan jodoh, lah, dan lah lah yang lain. Pokoknya, jangan sampai anak-anak mereka repot dengan dirinya. Cukuplah orang tua saja yang repot.

Bagaimana kalau anak sudah punya rumah tangga sendiri, apakah orang tua mau berhenti merepotkan dirinya untuk anaknya? Ternyata, mereka tidak mau berhenti merepotkan diri meskipun sudah dicegah oleh anak-anaknya. “Aku memberikan ini bukan untuk kamu, koq. Ini untuk cucuku,” kilah orang tua. Bukan hanya untuk anaknya, bahkan untuk anak-anak dari anaknya, untuk cucu-cucunya.

Repot? Ya, pasti repot. Tapi itulah orang tua. Serepot apapun, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Saya tegaskan, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Koq bisa? Itu tidak lain karena kasih sayang. Mereka begitu mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Serepot apapun, selelah apapun, secapek apapun, demi anak-anaknya, mereka rela asalkan anak-anaknya bahagia. Kasih sayang orang tua sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Itulah kata pepatahnya. Sekali lagi, mereka sama sekali tidak kerepotan.

Lantas, bagaimana sang anak memandang kerepotan orang tua ini? Sebagai anak, adalah tugasnya untuk tidak merepotkan orang tuanya. Ketika dewasa menjelang menikah, carilah jodoh kita sendiri, tidak usah merepotkan orang tua mencarikan untuk kita. Ketika belum punya rumah, bekerjalah yang giat mencari nafkah, belilah rumah walaupun lewat KPR. Atau bangunlah rumah sendiri secara bertahap sesuai uang yang kita punya. Ketika ingin punya mobil, belilah mobil sesuai dengan kemampuan keuangan. Tidak harus baru, yang penting nyaman. Tidak usah kita merepotkan orang tua untuk mencukupi itu semua buat kita. Karena, sekali lagi, tugas anak terhadap orang tua adalah tidak merepotkan mereka.

Tapi apa bisa seperti itu? Adalah sudah tabiat orang tua untuk selalu merepotkan diri untuk anak-anaknya. Meskipun tidak dapat mencarikan jodoh sampai benar-benar ketemu, mereka pasti sudah telisik sana dan telisik sini demi anaknya mendapatkan jodoh. Berdoa kepada Allah supaya anaknya mendapatkan jodoh terbaik. Meskipun tidak dapat membelikan rumah, tapi setidaknya menyumbangkan uang untuk sekadar membelikan semen, misalnya. Meskipun tidak berupa mobil utuh, minimal menyumbangkan uang untuk uang muka, contohnya. Ya, itulah orang tua. Tidak pernah berhenti repot untuk anak-anaknya. Apakah mereka merasa kerepotan? Oh, tidak. Sama sekali  tidak merasa kerepotan. Karena di balik kerepotan itu mereka merasakah kebahagiaan. Merasa bahagia karena anak-anaknya bahagia.

Di sinilah letak keseimbangan. Di satu sisi, anak tidak mau merepotkan orang tuanya. Di sini yang lain, tanpa dimintapun, orang tua akan berepot-repot ria untuk kebahagiaan anak-anaknya. Keseimbangan ini akan terus terjaga ketika masing-masing menjalaninya dengan tulus dan ikhlas. Bukan karena aji mumpung atau memanfaatkan pihak yang lain. Kita berdoa semoga kerepotan orang tua kita dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik.

Ya, Allah. Ampunilah kami. Ampuni kedua orang tua kami. Sayangi mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kecil hingga kini. Berikanlah mereka kebahagiaan. Di dunia, juga di akhirat. Aamiin.

(@dIeN’s)


Leave a comment

Everybody Knows (Leonard Cohen) – Sebuah Resensi Asal-asalan

Banyak cara yang dilakukan orang untuk memberikan kritik. Ada yang secara vulgar, ada yang secara halus. Cara yang terakhir ini seringkali dilakukan oleh para seniman. Dengan bahasa mereka, cara-cara halus seperti ini sengaja mereka lakukan untuk membiaskan pesan yang sesungguhnya. Maka, cara memahami pesan ini tidak cukup dengan membaca atau mendengarkannya. Diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang pesan itu. Bagaimana latar belakang di pembuat pesan, latar belakang peristiwa saat pesan disampaikan, kondisi sosial saat itu, dll.

Tetapi karena ini resensi asal-asalan, maka saya tidak sampai sejauh itu untuk menulis resensi ini. Berbekal kemauan untuk belajar menulis, sedikit kemampuan berbahasa Inggris, dan comot sana comot sini, maka resensi ini hadir di hadapan pembaca sekalian. Namun, sebelum masuk di substansi resensi, saya ceritakan sebab saya menulis resensi ini.

Berawal dari buka-buka youtube untuk mencari cover lagu-lagu Dewa19, saya menemukan cover lagu berjudul “Tak Akan Ada Cinta yang Lain” yang dibawakan oleh Alya Zurayya ft. Gilang Samsoe di https://www.youtube.com/watch?v=MDBBRyo7vgk. Dari lagu ini saya tertarik dengan vokal si vokalis pria, Gilang Samsoe yang mengantarkan saya pada saluran pribadi Gilang Samsoe di https://www.youtube.com/channel/UC_KQNs8efMeXc112mem52ZA. Dan, pilihan saya jatuh pada video lagu “Justice League”: https://www.youtube.com/watch?v=H0NfMazmVTY.

Dari sinilah kemudian saya mencari-cari versi asli lagu ini dan liriknya. Ditulis dan dinyanyikan oleh Leonard Cohen (https://en.wikipedia.org/wiki/Leonard_Cohen) yang direkam pada tahun 1988, dan yang terbaru dijadikan Original Sound Track (OST) film Justice League, lagu ini sendiri sering digambarkan secara luas sebagai kritik yang pesimistik. Bahkan dianggap sebagai ramalan yang suram tentang akhir dunia. Tentang AIDS, masalah-masalah sosial, dan masalah-masalah hubungan antar manusia dan agama (https://en.wikipedia.org/wiki/I%27m_Your_Man_(Leonard_Cohen_album)

Baik, selanjutnya mari kita berasal-asalan membaca resensi asal-asalan ini.

Bait pertama:

Everybody knows that the dice are loaded
Semua orang tahu bahwa bahwa dadu telah dimuat
“dice are loaded” merupakan idiom dalam Bhs. Inggris yang artinya bahwa hasil positif tampaknya tidak akan tercapai karena adanya persepsi kesialan. Singkatnya, pesimis.
Everybody rolls with their fingers crossed
Semua orang bergemuruh dengan jemari disilangkan.
fingers crossed” adalah bahasa tubuh dalam tradisi kristiani yang artiya memohon dengan sangat pertolongan dari Tuhan.
Everybody knows the war is over
Semua orang tahu bahwa perang telah berakhir
Everybody knows the good guys lost
Semua orang tahu bahwa bahwa orang-orang baik kalah
Everybody knows the fight was fixed
Semua orang tahu bahwa pertarungan telah diatur
The poor stay poor, the rich get rich
Yang miskin tetap miskin, yang kaya semakin kaya
That’s how it goes
Itulah yang terjadi
Everybody knows
Semua orang tahu

Ya, jelas sekali betapa pesimistisnya pesan ini. Pengulangan frasa “Everybody knows”, semua orang tahu, menunjukkan bagaimana kondisi yang tidak menguntungkan, bahwa walaupun pertolongan dari Tuhan telah dimohonkan, dan bahwa walaupun perang telah berakhir, telah diketahui semua orang, berulang-ulang. Namun, tetap saja kondisi tidak menjadi lebih baik. Orang-orang baik malah dipinggirkan karena tidak sesuai dengan kemauan penguasa. Kompetisi apapun semuanya telah diatur. Para juri dan wasit dipaksa memenangkan titipan. Siapa yang menang dan siapa yang kalah sudah ditentukan. Yang kurus semakin kurus dan terpuruk. Yang gemuk semakin gemuk dan semakin nyaman dengan kegemukannya. Dan, itulah yang terjadi. Meskipun semua orang tahu, tetap saja tidak ada perubahan.

Bait kedua:

Everybody knows that the boat is leaking
Semua orang tahu bahwa kapal sedang bocor
Everybody knows that the captain lied
Semua orang tahu bahwa sang Kapten berdusta
Everybody got this broken feeling
Semua orang merasakan hancurnya perasaan
Like their father or their dog just died
Seperti ayah atau anjing mereka baru saja mati
Everybody talking to their pockets
Semua orang bicara pada kantong-kantong mereka
Everybody wants a box of chocolates
Semua orang menginginkan sekotak coklat
And a long-stem rose
Dan setangkai mawar bertangkai panjang
Everybody knows
Semua orang tahu

Di bait kedua, kembali Cohen menyampaikan pesan pesimisnya dengan kondisi sosial yang ia temui. Betapa dalam kondisi darurat dan terpuruk, para pemimpin malah mencari selamat sendiri. Dalam berbagai momen mereka mengatakan bahwa negara dalam kondisi aman, tentram, dan damai. Namun mereka tahu kondisi sebenarnya dan sudah mempersiapkan segala sesuatu jika kapal bangsa ini karam. Namun, hanya keselamatan mereka sendiri yang dipersiapkan. Lantas bagaimana dengan keselamatan rakyat? Padahal semua orang tahu. Hati mereka terluka. Mandat sudah mereka berikan. Tetapi mandat dibalas dengan pengkhianatan. Tidak ada pemimpin yang bisa dijadikan panutan dan teladan. Akhirnya masing-masing mencari selamat dengan cara-caranya sendiri. Yang satu ke utara, yang lain ke selatan. Yang satu ke timur, yang lain ke barat. Kacau.

Bait ketiga:

Everybody knows that you love me baby
Semua orang tahu bahwa kaumencintaku, Sayang
Everybody knows that you really do
Semua orang tahu bahwa kamu benar-benar mencintaiku
Everybody knows that you’ve been faithful
Semua orang tahu bahwa kau telah setia
Oh, give or take a night or two
Oh, beri atau ambil semalam atau dua malam
Everybody knows you’ve been discreet
Semua orang tahu bahwa kau orang yang bijaksana
But there were so many people you just had to meet
Tapi begitu banyak orang yang harus kau temui
Without your clothes
Tanpa busana
Everybody knows
Semua orang tahu

Di bait ketiga, tampaknya Cohen ingin membelokkan isu-isu sosial ke isu-isu pribadinya. Ya, beginilah cara seniman membiaskan pesan. Seolah-olah yang disampaikan berkonteks sempit. Tetapi sejatinya mereka ingin membidik dalam konteks yang lebih luas. Di bagian awal bait ketiga, Cohen seolah-olah melupakan kondisi sosial di sekitarnya. Bagaimana kekasihnya begitu mencintainya, begitu setia, begitu bijaksana. Sampai-sampai semalam atau dua malam tidak cukup untuk bersamanya. Namun, ternyata sang kekasih juga berbagi setia dengan yang lain. Namanya juga setia. Kata kawan saya, artinya setiap tikungan ada. Heh. Dibelok-belokkan tetap saja. Kondisi sosial dan kondisi pribadi tidak jauh berbeda. Mengecewakan.

Bait keempat:

Everybody knows, everybody knows
Semua orang tahu, semua orang tahu
That’s how it goes
Itulah yang terjadi
Everybody knows
Semua orang tahu
Everybody knows, everybody knows
Semua orang tahu, semua orang tahu
That’s how it goes
Itulah yang terjadi
Everybody knows
Semua orang tahu

Semua tahu, bahwa semua tahu, bahwa semua orang tahu. Bahkan yang tidak mau tahu juga menjadi tahu tentang apa yang terjadi. Tetapi yang terjadi hanya terjadi begitu saja.

Bait kelima:

And everybody knows that it’s now or never
Dan semua orang tahu bahwa sekarang atau tidak sama sekali
Everybody knows that it’s me or you
Semua orang tahu itu antara aku dan kamu
And everybody knows that you live forever
Dan semua orang tahu bahwa kau hidup selamanya
When you’ve done a line or two
Saat kamu selesai dengan satu batas atau dua
Everybody knows the deal is rotten
Semua orang tahu perjanjian itu busuk
Old Black Joe’s still picking cotton
Joe hitam tua masih memetik kapas
Old Black Joe adalah representasi dari budak Afrika
For your ribbons and bows
Untuk pita dan busurmu
And everybody knows
Dan semua orang tahu

Kinilah saatnya semua harus bergerak. Anggap saja kita hidup selamanya-lamanya. Artinya, banyak bekal yang harus dipersiapkan. Karena apapun yang disepakati di masa lalu tidak ada artinya. Peraturan-peraturan dibuat hanya untuk dilanggar. Tidak ada kepastian untuk perbaikan. Orang-orang miskin masih menjadi alas kaki bagi kaum kaya. Kaum buruh masih menjadi sapi perah bagi para kapitalis.

Bait keenam:

And everybody knows that the plague is coming
Dan semua orang tahu bahwa wabah sedang datang
Everybody knows that it’s moving fast
Semua orang tahu bahwa wabah itu bergerak cepat
Everybody knows that the naked man and woman
Semua orang tahu bahwa pria dan wanita telanjang
Are just a shining artifact of the past
Hanyalah sekadar peninggalan masa lalu
Everybody knows the scene is dead
Semua orang tahu masa itu telah mati
But there’s gonna be a meter on your bed
Tetapi akan ada matra di atas kasurmu
That will disclose
Yang akan mengungkapkan
What everybody knows
Apa yang semua orang ketahui

Semua orang tahu bahwa kondisi sosial begitu gawat. Serangan dari luar begitu jelas dan begitu cepat datangnya. Kesempurnaan ciptaan Tuhan berwujud manusia adalah peninggalan masa lalu. Kebetulan saja manusia diciptakan lebih sempurna daripada makhluk lainnya. Tapi itu bukan jaminan bahwa kedudukan manusia lebih tinggi daripada mereka. Karena itulah, manusia diberikan tanggung jawab untuk mengelola alam. Bertanggungjawab atas kelebihannya dibandingkan makhluk lain. Perjalanan manusia selalu dalam pantauan Tuhan. Selalu ada yang mencatat amal perbuatan mereka yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir kelak. Rekaman perjalanan hidup manusia kelak akan terungkap semua.

Bait ketujuh:

And everybody knows that you’re in trouble
Dan semua orang tahu bahwa kamu dalam masalah
Everybody knows what you’ve been through
Semua orang tahu bahwa kau sudah melaluinya
From the bloody cross on top of Calvary
Dari salib berdarah di atas bukit Calvary
Bukit Calvary adalah sbuah bukit di luar Jerussalem di mana Kristus disalib
To the beach of Malibu
Sampai ke Pantai Malibu
Everybody knows it’s coming apart
Semua orang tahu ia hancur berkeping-keping
Take one last look at this sacred heart
Lihatlah untuk kali terakhir hati suci ini
Before it blows
Sebelum ia berhembus
Everybody knows
Semua orang tahu

Maka, jika pantauan Tuhan ini tidak dihiraukan, maka manusia berada dalam masalah besar. Sejarah kemanusiaan mencatat bahwa pembangkangan terhadap perintah Tuhan berujung pada kehancuran. Kehancuran alam dan manusia di dalamnya. Ada yang ditenggelamkan dalam lautan. Ada yang dibenamkan ke dalam bumi. Ada yang dihujani bebatuan dari neraka. Dan masih banyak lagi. Semua orang tahu. Dan sebelum itu terjadi, tengoklah untuk terakhir kali jiwa yang suci ini, jiwa yang merupakan tiupan ruh ilahi. Jagalah ia sebelum ia menghembus pergi. (@dIeN’s)


Leave a comment

Pribadi Yang Memberikan Kemanfaatan – Renungan Pergantian Tahun

Surabaya, 30 Desember 2016. Tahun 2016 kian mendekati masa berakhirnya. Besok lusa adalah tahun yang baru, tahun 2017.  Tepat pada tanggal 1 Januari 2017, pada tanggal berapapun Anda dilahirkan, usia Anda pasti bertambah. Ada yang pertambahannya dalam hitungan hari, hitungan bulan, atau bahkan tahun. Bilangan usia memang bertambah. Tetapi sejatinya, bertambahnya bilangan tahun adalah berkurangnya jatah.

renunganJatah apaan? Ya, jatah masa kontrak kita hidup di dunia. Memang tak satupun kita yang mengetahui secara pasti berapa sih masa kontrak kita di dunia. Tapi satu hal yang pasti, suatu saat nanti kita pasti meninggalkan alam dunia ini. Lantas bagaimana kita menyikapi pergantian tahun yang sejatinya pertanda berkurangnya jatah itu?

Ada banyak cara yang dilakukan banyak orang untuk menyikapi pergantian tahun itu. Sebagian besar adalah seperti yang dapat kita saksikan di sekitar kita dan begitu luar biasa diekspos oleh media. Berkumpul di ruang terbuka, menyalakan kembang api raksasa, berkonvoi di jalan-jalan dengan knalpot motor yang meraung-raung, meniup terompet, membunyikan klakson, dll, dll. Mereka itu sedang merayakan berkurangnya kontrak hidup, lho! Sebagian besar, begitulah cara merayakan pergantian tahun.

Tetapi, menjadi sebagian kecil yang tidak mengikuti kecenderungan orang banyak bukanlah sebuah keanehan, kan? Pergantian tahun akan lebih bermakna jika diisi dengan perenungan. Perenungan tentang seberapa bermanfaatnyakah diri ini bagi orang lain. Bukankan sebaik-baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Jika di tahun lalu, kita sering membuat orang bersedih, sering membuat orang sakit hati, sering membuat orang bercacimaki, tentu harus ada yang diperbaiki pada diri ini. Namun, jika di tahun lalu kita membuat orang tersenyum, membuat orang tertawa, membuat orang bahagia, maka bersyukurlah. Berdoalah agar di tahun mendatang, kita semakin menjadi pribadi yang menyenangkan, pribadi yang membahagiakan, pribadi yang mencerahkan.

Pergantian tahun adalah momentum yang tepat untuk merubah diri. Merubah diri menjadi pribadi yang memberikan sebesar-besarnya kemanfaatan.

@dIeN’s


Leave a comment

Memantaskan Diri Menjadi Pemimpin

PemimpinHari Rabu, tanggal 1 Juli 2015. Waktu bagi saya untuk berangkat ke Pusdiklat Sekretariat Negara di Cilandak, Jakarta. Ada pelatihan bagi para Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PPBJP) yang diselenggarakan oleh LKPP. Maklum, PPBJP adalah jabatan fungsional baru. Untuk itu, perlu diadakan pelatihan agar para pemangku jabatan ini memahami hak-hak dan kewajiban-kewajibannya agar dapat melaksanakan pengadaan yang kredibel dan akuntabel.

Tiba di ruang tunggu Bandara Juanda sekitar pukul 11.33 WIB, saya langsung menuju toilet. Maaf, sudah ada yang musti dibuang untuk sedikit meringankan tubuh. Sebuah “ritual” yang saya tidak tahu kenapa selalu ingin saya lakukan selepas tiba di tempat baru. Lorong menuju toilet ternyata melewati sebuah mushola. Dari luar mushola saya melihat seorang wanita yang sedang mengenakan mukena, mengingatkan saya pada waktu Dhuhur. Maka, pada saat saya melakukan “ritual” terbersit dalam hati saya untuk mengambil wudlu yang mendirikan sholat selepas “ritual” itu selesai.

Di tengah-tengah wudlu, saya mendengar seorang pria, sebut saja namanya Ahmad, mengumandangkan adzan dari dalam mushola. Dari pakaiannya, Ahmad ini bukanlah pegawai bandara, namun orang kebanyakan yang juga akan melakukan perjalanan dengan pesawat udara. Setelah adzan selesai, tak lama ia mengumandangkan iqomat. Ada tiga pria di saat itu. Ahmad, saya, dan seorang pria lagi yang sudah bapak-bapak. Saya sendiri, sih, bukan bapak-bapak, he he he. Masing-masing kami bertiga saling mempersilakan untuk menjadi imam sampai pada akhirnya Si Bapak maju untuk siap-siap menjadi imam. Namun, sebelum takbiratul ihram, Ahmad mengingatkan Si Bapak bahwa kaki Sang Bapak, bagian kaki yang seharusnya terbasuh oleh air wudlu, ternyata masih kering. Awalnya Sang Bapak tidak mengerti apa maksud Ahmad. Begitu juga dengan saya. Namun, tidak lama berselang kami menyadari bahwa wudlu Sang Bapak tidak sempurna. Kalau beliau meneruskan diri menjadi imam maka sholat kami bertiga tidak sah. Dengan rela hati Sang Bapak mundur dan mengulangi wudlunya.

Ditunggu beberapa menit, Sang Bapak belum juga kembali. Melihat kekosongan “kursi” imam ini, akhirnya saya mempersilakan Ahmad untuk menjadi imam. Awalnya dia menolak. Tapi setelah saya memberi isyarat persetujuan, akhirnya dia bersedia menjadi pemimpin sholat kami. Di dalam hati saya berkata bahwa Ahmad lebih layak menjadi imam. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk itu. Sejak awal ia telah mengondisikan dirinya untuk itu. Dimulai dari kumandang adzan, iqomat, sampai mengingatkan Sang Bapak tadi, tampak jelas bahwa ia telah siap menjadi imam. Ia telah memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin sholat kami di mushola Ruang Tunggu Bandara Juanda siang itu.

Sabahat, pernahkah Anda mendapati bahwa sebagian besar orang lebih sibuk berkeinginan untuk menjadi pemimpin? Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. Melobi sana, melobi sini. Menyikut sana, menyiikut sini. Menjilat sana, menjilat sini. Dan lain-lain dan lain-lain cara yang menurut saya buang-buang energi. Satu hal yang mereka lupakan. Mereka lupa untuk memantaskan dirinya menjadi pemimpin. Tak heran ketika mereka benar-benar menjadi pemimpin, seringkali mereka gapim, gagap kepemimpinan, tidak tahu apa yang musti dilakukan dengan amanah kepemimpinan itu. Mudah-mudahan Anda dan saya bukanlah bagian dari mereka.

Kepemimpinan bukanlah barang instan. Ada proses yang harus dilalui untuk sesorang menjadi pemimpin. Ada proses untuk memantaskan diri untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan, yang dalam arti sempit disebut jabatan, memang menggiurkan bagi sebagian besar orang. Maklum, pada umumnya ada kenikmatan materi yang menyertainya. Namun, jangan sampai energi kita habiskan untuk mengejar jabatan. Justru, biarkanlah jabatan itu mengejar kita.

Caranya? Pantaskanlah diri Anda. Persiapkanlah diri Anda untuk menjadi pemimpin. Kuasai aspek teknis, kuasai aspek manajerial, dan kuasai aspek strategis dari bidang pekerjaan Anda. Bukan untuk dinilai apakah Anda pantas atau tidak menjadi pemimpin. Akan tetapi semata-mata ikhlas untuk memberikan yang terbaik dari diri Anda untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi orang lain dan organisasi Anda. Tidak perlu buang-buang energi untuk mempromosikan diri. Tidak perlu sibuk untuk mencari posisi. Promosi dan posisi akan dengan sendirinya menghampiri Anda. Insha-Allah amanah.

Ba’da Shubuh
Cilandak, 3 Juli 2015,
@dIeN


Leave a comment

Warna Dunia Tergantung Dari Cara Memandangnya

bola-duniaSore itu, selepas Maghrib, anak bungsu saya minta dibelikan es krim. Menaiki motor matic kesayangan istri, dia berdiri di depan, sedangkan sang kakak duduk di belakang. Kebiasaan kami adalah setiap naik motor, ke mana saja, meskipun dekat, saya budayakan anak-anak memakai kaca mata. Jaga-jaga barangkali ada hewan kecil yang nyasar ke mata. Kurang lebih seminggu sebelumnya, mereka berdua saya belikan kaca mata untuk anak-anak. Kacanya berwarna ungu.

Pada setiap kesempatan, saya selalu menyisipkan pendidikan kepada anak-anak lewat apapun yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan usia mereka. Misalnya ketika jalan-jalan pagi saya tanyakan kepada si adik apa warna benda-benda di sekitarnya. Juga terkadang saya tanyakan apa bentuknya bagaimana. Dan saya berusaha untuk menghubungkan pengalaman mereka dengan agama. Misalnya matahari ciptaan siapa. Yang menerangi malam dengan cahaya bulan itu siapa. Yang membuat lampu yang menyebabkan ruangan menjadi terang siapa, dan lain-lain.

Begitu juga dalam perjalanan beli es krim tadi. Kepada adik saya tanyakan bulan itu bentuknya apa. Bulat, dia menjawab. “Terus, warnanya apa”? lanjut saya. “Ungu” dengan polosnya ia menjawab. “Lho, koq ungu?” protes saya atas jawabannya.  “Iya, Yah, ungu!”, dengan nada lebih tinggi seolah-olah tidak terima dengan protes ayahnya. Rupanya sifat tidak mau disalahkan si adik lebih kuat daripada ayahnya, he he he. Karena protesnya itu saja jadi teringat bahwa adik sedang memaca kaca mata ungu. Makanya, apapun warna aslinya, semua jadi ungu dalam pandangan si adik. Baru ketika dia saya minta untuk melepas kaca matanya, dia menjawab warna bulan putih.

Belajar dari jawaban si adik tadi, rupanya begitulah warna dunia ini, tergantung bagaimana kita memandangnya. Tergantung dengan “kaca mata” apa kita melihatnya. Mau pakai “kaca mata” positif atau negatif. Kalau “kaca mata” negatif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun posistif, jadi negatiflah ia dalam pandangan kita. Apalagi kalau yang kita pandang itu dari sananya sudah negatif, jadi bertambah-tambah sifat negatifnya. Jika “kaca mata” positif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun negatif, jadi positiflah ia dalam pandangan kita. Hal yang negatifpun, jadinya akan menjadi positif jika “kaca mata” yang kita gunakan adalah “kaca mata” positif. Ada lagi “kaca mata” yang dapat kita pilih, “kaca mata” netral. Dengan “kaca mata” netral ini, semua yang dilihat akan tampak seperti apa adanya.

Bagaimana warna dunia tergantung pada pilihan “kaca mata” yang kita gunakan. Positif, negatif, atau netral, itu terserah kita. Tergantung pada warna apa yang kita inginkan.

Selamat memandang dunia.

Ciputat, 18 Maret 2015
@dIeN


Leave a comment

Pengalaman Kerja Tidak Selalu Positif

PENGALAMAN 1Membaca koran Hari Sabtu, saya jadi teringat ketika masih berburu lapangan kerja, kurang lebih 10 s.d. 13 tahun yang lalu. Koran Sabtu biasanya memuat banyak lowongan pekerjaan. Macam-macam kualifikasi yang ditentukan oleh perusahaan. Dari latar belakang pendidikan, pendidikan terakhir, batas usia, sampai dengan pengalaman kerja. Untuk kualifikasi yang terakhir ini, beberapa perusahaan mensyaratkan pengalaman minimal 5 tahun. Yang lain 4 tahun, 3 tahun, dst. Ada juga yang tidak mempertimbangkan pengalaman. Bahkan, mereka lebih menyukai yang tidak punya pengalaman, alias baru lulus.

Tentu persyaratan pengalaman ini disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan bersifat teknis administratif, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang berpengalaman. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan menuntut kreasi dan inovasi, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, membentuk karakter karyawan yang tidak berpengalaman akan lebih mudah daripada mereka yang berpengalaman. Memang, berpengalaman atau tidak belum tentu menentukan kinerja seorang karyawan. Masih ingat dengan senior yang protes karena tidak dipromosikan, https://syaifudins.wordpress.com/2013/07/19/pengalaman-anda-cuma-satu-tahun/? Itulah kondisi yang kita lihat saat ini di instansi-instansi swasta, apalagi di lingkungan instansi pemerintah. Namun sebagian besar perusahaan tidak mau mengambil risiko dengan merekrut mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, pengalaman adalah jaminan kinerja.

Sekarang, mari kita cermati apakah pengalaman selalu memberikan dampak positif terhadap kinerja karyawan dan kinerja perusahaan. Pengalaman akan memberikan dampak positif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan tidak menutup diri dari dinamika yang berkembang. Dengan membuka diri terhadap dinamika organisasi, maka karyawan akan mengombinasikan pengalamannya dengan dinamika itu. Ia akan menggunakan pengalamannya jika masih relevan dengan dinamika perusahaan. Namun ia akan tinggalkan pengalamannya jika tidak relevan lagi. Ia akan selalu berusaha mencari peluang, berdasarkan pengalamannya dan kondisi riil yang ia hadapi saat ini, untuk mengembangkan dirinya. Muncullah ide-ide baru, cara-cara baru, metode-metode baru yang membuat pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Dan tentu, ini akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dari sisi karyawan, pengombinasian ini akan memperkaya pengalamannya. Dengan demikian, si karyawan akan memiliki pengalaman baru.

Pengalaman akan memberikan dampak negatif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan menutup diri dari dinamika yang berkembang. “Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun, masalah ini harus dipecahkan dengan cara ini, bukan dengan cara itu. Pokoknya harus dengan cara ini, titik.” Ungkapan seperti merupakan mental block bagi karyawan untuk berkembang. Kondisi seperti ini, lebih parahnya, tidak disadari oleh si karyawan. Akhirnya, pengalaman si karyawan cuma itu-itu saja. Tidak ada pengalaman baru.

Mental block adalah kondisi mental yang menghalangi atau membatasi seseorang untuk bergerak atau berubah. Mental block disebabkan oleh kemauan hawa nafsu, keengganan untuk keluar dari zona nyaman, kurangnya pengetahuan, kemalasan, atau kombinasi dua atau lebih di antara penyebab-penyebab ini. Tetangga sebelah, http://www.motivasi-islami.com/membuka-mental-block-tidak-sreg/, mengistilahkan mental block sebagai perasaan “tidak sreg”.

Jika “tidak sreg” disebabkan oleh hawa nafsu, maka Anda harus berjihad untuk melawannya. Kondisi nyaman adalah dambaan semua orang. Namun merasa puas dengan kondisi nyaman akan menutup Anda dari peluang untuk mendapatkan kondisi yang lebih nyaman. Anda tidak mau berubah karena kurangnya pengetahuan? Di zaman informasi seperti ini, alasan kurangnya pengetahuan rasanya tidak relevan lagi. Dengan kesaktiannya, Mbah Google akan mengarahkan Anda kepada informasi yang Anda butuhkan. Tinggal bagaimana Anda mengolah informasi itu menjadi pengetahuan. Malas berubah? Dikutip dari “Hikmah dalam humor kisah dan pepatah”, jilid 3, karya Abdul Aziz Salim Basyarahil, Aristoles berkata kepada muridnya yang malas, “Kalau demikian tidak ada jalan lain bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan.

Anda sedang “tidak sreg”? Jangan sampai hidup Anda dikuasai oleh “tidak sreg”. Anda tidak akan pernah berkembang, sebab apa pun nasihatnya jawabannya selalu “tidak sreg”. Mulai sekarang, saat dalam hati mengatakan tidak sreg, cobalah evaluasi apakah benar tidak sreg atau karena 4 penyebab di atas. Yang Anda perlukan adalah kejujuran dalam mengevaluasi diri, apakah Anda memperturutkan hawa nafsu, betah di zona nyaman, kurang pengetahuan, atau malas. Mulailah membuka diri dengan pengalaman-pengalaman perusahaan atau pengalaman-pengalaman orang lain. Bisa jadi pengalaman-pengalaman mereka, atau pengalaman-pengalaman mereka yang dikombinasikan dengan pengalaman Anda, adalah praktik terbaik untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi.

Kesimpulannya, pengalaman tidak selalu memberikan dampak positif. Mengelolanya dengan cerdas adalah solusi agar pengalaman selalu memberikan dampak positif bagi Anda dan perusahaan, instansi, atau organisasi apapun di mana Anda berkarya.

Salam,

@dIeN’s