Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Persaudaraan

Kala itu kami diundang salah seorang kerabat yang sedang punya hajat menikahkan putranya, walimatul uruys. Kebetulan semua petugas acara; pembawa acara, qori’, dan penceramah dan pembaca doa berasal dari kerabat yang punya hajat. Entah sudah direncakan atau tidak, tema tausyiah adalah tentang keluarga. Tetapi bukan untuk keluarga baru yang baru saja terbentuk, tetapi lebih tentang keluarga pada umumnya, dan terkhusus tentang saudara dan persaudaraan.

 

Saudara, kata penceramah, ada 2 (dua) golongan. Golongan pertama adalah saudara atas dasar hubungan biologis. Sedangkan golongan kedua adalah saudara bukan karena hubungan biologis. Saudara atas dasar hubungan biologis terdiri atas saudara nasabiah dan saudara hasabiah. 

 

Dalam pemahaman saya, saudara nasabiah adalah saudara kandung, baik sebapak atau beda bapak. Sedangkan saudara hasabiah, atau saudara berdasarkan hitungan, adalah misalnya anak dari paman atau bibi. Makanya dalam adat Jawa saudara hasabiah ada yang disebut dengan misanan, mindoan, mentelu, dan seterusnya. Jadi, berdasarkan hitungan. Misanan adalah anak dari paman atau bibi. Mindoan adalah anak dari misanan. Mentelu adalah anak dari mindoan, dan seterunya. Saudara golongan kedua, saudara non-nasabiah dan non-hasabiah adalah misalnya saudara ipar, suami/istri dari saudara ipar. Itu pemahaman yang saya tangkap dari penceramah.

 

Setelah menjelaskan golongan-golongan saudara, penceramah memberikan pesan betapa pentingnya menjaga persaudaraan. Cara menjaganya adalah dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Doa semacam ini adalah salah satu doa yang mustajabah;
  2. Memandang persaudaraan bukan berdasarkan harta;
  3. Mengutamakan saudara dibandingkan dengan orang lain. Untuk pesan yang satu ini, penceramah bahkan menegaskan bahwa persaudaraan nasabi lebih utama daripada persaudaraan islami.
  4. Menjaga agar persaudaran tidak terputus karena Allah akan mengadzab mereka yang memutuskan tali persaudaraan.

 

Akhir-akhir ini, beberapa di antara kita begitu mudahnya memutuskan tali persaudaraan hanya karena harta semata. Ini sering terjadi ketika kedua orang tua sudah meninggal dan mereka belum sempat membagi harta bendanya. Oleh sebagian besar orang tua, urusan ini sering disepelekan. Padahal hal ini adalah urusan yang penting. Jangan sampai sepeninggal orang tua, anak-anak berselisih masalah harta warisan sehingga jalan orang tua ke surga menjadi terhalang karena urusan dunia yang belum terselesaikan. Sebagai orang tua, hal ini musti diperhatikan terutama jika anak-anak kita sudah dewasa dan sudah bisa mengatur keuangan mereka sendiri. Sudah contoh yang terjadi dalam masyarakat kita. Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampai kejadian semacam itu menimpa keluarga kita.

 

Di luar sana, banyak yang menjadikan teman sebagai saudara. Di luar sana, banyak yang menjadikan orang yang baru dikenal sebagai saudara: saudara seolah-olah. Tidak ada salahnya. Ini bisa jadi karena perlakuan baik mereka tidak sebaik perlakuan saudara kita sendiri, atau tidak sebaik perlakuan kita terhadap saudara sendiri. Masak iya, kita justru lebih dekat dengan saudara seolah-olah dibandingkan dengan saudara sendiri. Jadi, mari kita kaji kembali sebagaimana kita berlaku baik terhadap saudara kita sendiri. Jika perlakuan itu kurang baik, mari kita perbaiki. Jika perlakuan itu sudah baik, mari ditingkatkan lagi. Lagi, lagi, dan lagi.

 

Salam Persaudaraan,

@dIeN’s


Leave a comment

Repot

Repot mengandung arti sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunannya, misalkan “merepotkan” mengandung arti menjadikan repot, atau membuat orang lain menjadi sibuk, banyak kerja, sukar, dll. Kata turunnya lagi, “kerepotan”, memiliki arti kesibukan atau kewalahan.

Repot. Siapa sih di dunia ini yang tidak merasa repot? Sejak bangun pagi saja kita sudah repot mengurusi diri sendiri. Bangun pagi, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Setelah mandi kita tolong ibu yang repot mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya. Mempersiapkan sarapan pagi, mempersiapkan keperluan sekolah untuk anak-anaknya, bahkan ia lupa mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Repot? Ya, pasti repot.

Bicara tentang ibu, tentang orang tua. Orang tua mana sih yang tidak repot mengurusi anaknya? Mengurusnya ketika masih bayi. Mendampingi tumbuh kembangnya ketika balita hingga masuk sekolah. Sedari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan sampai sekolah tinggi. Pasti repot.

Bagaimana tidak repot? Ini adalah gambaran aktivitas orang tua yang repot mengurusi anak-anaknya. Menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan bekal sekolah, mengantar anaknya ke sekolah. Pulang mengantar anak, mengurusi rumah. Menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika. Repot? Ya, pasti repot. Itu gambaran ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Bagaimana jika mereka bekerja? Selain aktivitas di atas, mereka juga repot mengurusi kerjaan kantornya. Untuk apa dan untuk siapa? Tentu saja demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Itu jika anak-anak mereka masih anak-anak. Bagaimana kalau mereka sudah dewasa? Yang namanya orang tua, masih saja mau berepot-repot mengurusi anaknya. Membuatkan rumah, lah. Membelikan mobil, lah. Mencarikan jodoh, lah, dan lah lah yang lain. Pokoknya, jangan sampai anak-anak mereka repot dengan dirinya. Cukuplah orang tua saja yang repot.

Bagaimana kalau anak sudah punya rumah tangga sendiri, apakah orang tua mau berhenti merepotkan dirinya untuk anaknya? Ternyata, mereka tidak mau berhenti merepotkan diri meskipun sudah dicegah oleh anak-anaknya. “Aku memberikan ini bukan untuk kamu, koq. Ini untuk cucuku,” kilah orang tua. Bukan hanya untuk anaknya, bahkan untuk anak-anak dari anaknya, untuk cucu-cucunya.

Repot? Ya, pasti repot. Tapi itulah orang tua. Serepot apapun, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Saya tegaskan, mereka tidak pernah merasa kerepotan. Koq bisa? Itu tidak lain karena kasih sayang. Mereka begitu mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Serepot apapun, selelah apapun, secapek apapun, demi anak-anaknya, mereka rela asalkan anak-anaknya bahagia. Kasih sayang orang tua sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Itulah kata pepatahnya. Sekali lagi, mereka sama sekali tidak kerepotan.

Lantas, bagaimana sang anak memandang kerepotan orang tua ini? Sebagai anak, adalah tugasnya untuk tidak merepotkan orang tuanya. Ketika dewasa menjelang menikah, carilah jodoh kita sendiri, tidak usah merepotkan orang tua mencarikan untuk kita. Ketika belum punya rumah, bekerjalah yang giat mencari nafkah, belilah rumah walaupun lewat KPR. Atau bangunlah rumah sendiri secara bertahap sesuai uang yang kita punya. Ketika ingin punya mobil, belilah mobil sesuai dengan kemampuan keuangan. Tidak harus baru, yang penting nyaman. Tidak usah kita merepotkan orang tua untuk mencukupi itu semua buat kita. Karena, sekali lagi, tugas anak terhadap orang tua adalah tidak merepotkan mereka.

Tapi apa bisa seperti itu? Adalah sudah tabiat orang tua untuk selalu merepotkan diri untuk anak-anaknya. Meskipun tidak dapat mencarikan jodoh sampai benar-benar ketemu, mereka pasti sudah telisik sana dan telisik sini demi anaknya mendapatkan jodoh. Berdoa kepada Allah supaya anaknya mendapatkan jodoh terbaik. Meskipun tidak dapat membelikan rumah, tapi setidaknya menyumbangkan uang untuk sekadar membelikan semen, misalnya. Meskipun tidak berupa mobil utuh, minimal menyumbangkan uang untuk uang muka, contohnya. Ya, itulah orang tua. Tidak pernah berhenti repot untuk anak-anaknya. Apakah mereka merasa kerepotan? Oh, tidak. Sama sekali  tidak merasa kerepotan. Karena di balik kerepotan itu mereka merasakah kebahagiaan. Merasa bahagia karena anak-anaknya bahagia.

Di sinilah letak keseimbangan. Di satu sisi, anak tidak mau merepotkan orang tuanya. Di sini yang lain, tanpa dimintapun, orang tua akan berepot-repot ria untuk kebahagiaan anak-anaknya. Keseimbangan ini akan terus terjaga ketika masing-masing menjalaninya dengan tulus dan ikhlas. Bukan karena aji mumpung atau memanfaatkan pihak yang lain. Kita berdoa semoga kerepotan orang tua kita dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik.

Ya, Allah. Ampunilah kami. Ampuni kedua orang tua kami. Sayangi mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kecil hingga kini. Berikanlah mereka kebahagiaan. Di dunia, juga di akhirat. Aamiin.

(@dIeN’s)