Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


1 Comment

Rem Depan Dulu Lebih Efektif

sepeda-onthelCari-cari inspirasi di atas motor dalam perjalanan ke kantor, saya teringat sebuah tayangan TV. Acaranya kala itu kalau tidak salah semacam science for fun, sebuah program yang menayangkan percobaan-percobaan fisika yang dikemas dalam format yang menyenangkan. Dalam acara itu, ditayangkan percobaan pengereman.

Ada tiga kondisi pengereman sepeda kayuh dengan asumsi bahwa kecepatan gerak dan daya pengereman sama. Kondisi pertama, rem depan dulu baru diikuti dengan rem belakang. Kedua, rem belakang dulu, baru rem depan. Ketiga, rem depan dan rem belakang ditarik bersamaan. Untuk pengereman yang tidak bersamaan, interval waktu antara pengereman diasumsikan sama. Hasilnya? Ternyata kondisi pengereman pertama yang paling efektif menghentikan laju sepeda. Mengapa bisa demikian? Saat rem depan ditarik, kecepatan sepeda sudah berkurang terlebih dahulu. Diikuti dengan rem belakang, sepeda menjadi berhenti sempurna.

Hasil percobaan ini dapat dijadikan pelajaran dalam organisasi. Pimpinan organisasi, sebagai orang terdepan, menjadi orang yang paling efektif untuk meggerakkan organisasi atau mengerem gerak organiasi jika dirasa arah yang ditempuh menunjukkan indikasi atau sudah keluar dari tujuan yang seharusnya atau karena tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Tentu, tidak semata-mata peran pimpinan tertinggi saja dalam hal mengerem gerak organisasi yang salah ini. Diperlukan gerak bersama yang sinergis antara pimpinan tertinggi, manajer, dan segenap staf pelaksana agar organiasi kembali pada tujuan dan aturan yang telah disepakati bersama itu. Ingat, rem depan saja tidak cukup.

Bagaimana jika gerak yang salah ini sudah menjadi praktik yang wajar dan dianggap sebagai sesuatu yang benar? Adalah peran pimpinan tertinggi, sebagai rem depan, dan para manajer dan pelaksana sebagai rem belakang untuk segera menyadari kondisi yang salah kaprah ini untuk segera menghentikan gerak yang salah ini dan segera kembali kepada praktik-praktik yang benar dan yang seharusnya. Bukan malah membiarkan praktik yang salah itu berjalan. Apalagi dengan memberikan tips dan trik agar yang salah itu menjadi tampak benar. Maka jangan salahkah jika pelaksana yang melakukan kesalahan menimpakan kesalahan itu kepada pimpinan karena pimpinan telah memberikan tips dan trik yang jitu, tips dan trik yang “cantik” agar kesalahannya dianggap benar. Naudzubillah.

Saya jadi teringat materi kultum Dhuhur kemarin. Penceramah menjelaskan kisah tentang Abu Bakar. Dikatakan oleh Abu Bakar bahwa jika ada 70 pintu menuju sebuah ruangan dan di antara 70 itu ada 1 saja pintu subhat, maka beliau, Abu Bakar, lebih memilih untuk tidak memasuki ruangan itu. Beliau khawatir pintu yang beliau akan lewati adalah pintu yang subhat itu. Sahabat, terhadap yang abu-abu saja Abu Bakar tidak mau mengambil risiko dosa. Apalagi sudah jelas hitam dan putihnya.

Lha kita? Lha sistem kita?

@dIeN

Advertisements


1 Comment

Unsur Islam dalam Nibiru dan Ksatria Atlantis [sebuah resensi asal-asalan]

pers_nibiruInginnya sih menulis sebuah resensi tentang ini novel – Nibiru dan Ksatria Atlantis. Tapi saya tidak tahu juga bagaimana menulis sebuah resensi yang baik. Tulisan ini sekadar apresiasi saya terhadap karya Tasaro GK yang bagi saya enak dibaca itu. Sebagai bagian pertama dari pentalogi Nibiru, kelanjutan kisah Nibiru patut untuk dinanti-nantikan.

Novel ini saya beli pada tanggal 14 Januari 2011. Namun baru-baru ini kerinduan saya terhadap kidah Nibiru membuat saya kembali manghatamkan novel ini. Hatam membacanya membuat saya lebih rindu lagi untuk menanti kelanjutannya, seperti yang dijanjikan penulisnya, Nibiru dan 7 Kota Suci.

Membuka halaman pertama setelah daftar isi, kita disuguhi sebuah prasasti berbahasa Kedhalu yang susah sekali melafalkannya. Namun tulisan di prasasti itu adalah kunci bagi Anda untuk lebih memahami Bahasa Kedhalu yang akan banyak Anda temui di halaman-halaman berikutnya. Prasasti itu adalah kodefikasi Bahasa Kedhalu ke dalam Bahasa Indonesia. Cukup cerdik rupanya penulis yang satu ini. Sebuah kunci bahasa yang ditata dalam sebuah cerita. Mungkin, prasasti ini adalah rangkuman dari pentalogi yang dijanjikan itu. Tulisan pada prasasti itu adalah sebagai berikut:

Sedhletkuth nyidwa nyapidh. Bhesugany kedharakay thedwemal pe ngabhadh manyuth. Dhnyabhinya sebhadh thedhnyudpak. Kedhabhanyay jiytha thap thedhpathapay. Nyapidh bhesugany kedhcamayay nyapay leycangi nyagam keyjadhinyay thedhalath paycad.

Dhaca Suli leyumibh ngi nyadhi thedhnyaidh sawi kedunyaba seyunya sebhadh Atlantis

Di bawah prasasti Bahasa Kedhalu itu, Tasaro menuliskan terjemahanya dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Bertempur hingga akhir. Sebuah peradaban tenggelam ke dasar laut. Rahasia besar terungkap. Perasaan cinta tak terkatakan. Akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal pencarian teramat panjang.

Dhaca Suli menulis di hari akhir bagi penguasa benua besar, Atlantis.

Mari kita cermati kata per kata dan artinya. Kejelian akan mengantarkan Anda pada pemahaman bahwa Bahasa Kedhalu adalah Bahasa Indonesia juga. Hanya Tasaro menukar-tukar konsonannya saja. Tentang hal ini, Anda bisa mengunjungi http://www.tribunnews.com/2010/12/13/memecah-kode-bahasa-planet-novel-nibiru

Saya ini tidak akan membahas lebih jauh tentang kunci-kunci Bahasa Kedhalu itu di sini.

Di balik cerita aksi fantasi yang dibalut dalam kisah pulau Kedhalu dengan kekhawatiran penduduknya akan kedatangan Nibiru yang dipercaya membawa kehancuran, kisah Atlantis, kisah pengorbanan demi tanah air, kisah cinta bertepuk sebelah tangan, dll., penulis dengan jeli memasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Anda bisa membaca mulai halaman 80. Penulis menggambarkan makna pedhib (Bhs. Indonesia = keris) yang memiliki enam mata perak pada setiap lekukannya. Simak bagaimana ayah Dhaca, Wamap Suli menjelaskan makna masing-masing lekukan senjata itu.

“Lekukan pertama di ujungnya, … melambangkan keyakinanmu terhadap Sang Nyammany, Tuan segala ciptaan.”

Dalam Kamus Bahasa Kedhalu, insya-Allah akan saya tulis di lain tempat, Nyammany mengandung makna Tuhan pencipta alam semesta yang mahasempurna; Tuhan Yang Maha Esa yg disembah oleh orang yg beriman.

Makna lekukan pertama adalah rukun iman yang pertama, percaya kepada Allah.

“Lekukan kedua melambangkan keyakinanmu terhadap ilmu-ilmu Sang Nyammany yang pernah turun ke bumi.”

Ini adalah rukun iman yang kedua, percaya kepada kitab-kitab Allah.

“Lekukan ketiga … melambangkan keyakinanmu terhadap para Penjaga …Makhluk yang tercipta dari cahaya. Mereka patuh kepada Sang Nyammany. Mengatur dan menjaga alam semesta sesuai perintah Sang Nyammany.”

Ini adalah rukun iman yang ketiga, percaya kepada malaikat-malaikat Allah.

“Lekukan keempat melambangkan keyakinanmu terhadap para Pembawa Pesan.”

Ini adalah rukun iman yang keempat, percaya kepada para Nabi dan Rasul.

“Lekukan kelima … melambangkan keyakinanmu terhadap datangnya Hari Keadilan.”

Ini adalah rukun iman yang kelima, percaya kepada Hari Akhir.

“Lekukan keenam berarti keyakinanmu terjadap jejaring Sang Nyammany…. Setiap yang terjadi pada diri manusia dan segala di alam semesta hanyalah mengikuti jejaring Sang Nyammany… Kita hanya melakoninya.”

Ini adalah rukun iman yang terakhir, percaya kepada takdir Allah.

Unsur Islam kembai ditulis oleh Tasaro di halaman 318 s.d. 319 di mana dia menggambarkan Kuil Suci. “Para pendeta laki-laki yang telah memiliki kemampuan untuk memiliki murid disebut nyubhthar. Sedangkan, pendeta perempuan dipanggil nyubhtharcany. Masing-masing memiliki murid dari kaumnya sendiri-sendiri. Nyubhthar hanya membimbing murid-murid laki-laki dan nyubhtharcany mengajar murid-murid perempuan. Tempat tinggal dan kelas mereka pun dipisah.”

 Kamus Bahasa Kedhalu mendefinisikan nyubhtar sebagai guru agama atau guru besar (laki-laki). Bahasa Indonesia menyebutnya Ustaz. Sedangkan, nyubhtharcany didefinisikan sebagai ustaz wanita, ustazah. Digambarkan bahwa nyubhthar hanya membimbing murid laki-laki dan nyubhtharcany yang hanya membimbing murid-murid perempuan. Ini adalah tradisi pesantren. Demikian juga dengan pemisahan asrama dan kelas. Tak salah lagi, tradisi dalam kuil suci yang diceritakan Tasaro adalah tradisi pondok pesantren.

Anda akan semakin setuju dengan saya ketika membaca ucapan salam para penghuni kuil itu, nyabhamalunyamanyipul. Nyabhamalunyamanyipul adalah salam yang diucapkan seseorang kepada orang lain pada saat bertemu atau pada awal dan akhir pidato yang mengandung doa keselamatan (kesejahteraan, kedamaian). Nyabhamalunyamanyipul sendiri artinya adalah keselamatan (kesejahteraan, kedamaian) untukmu. Lihat kembali bagaimana balasan yang menerima salam, ganyamanyipulbhamal, artinya dan semoga kedamaian menyertai Anda juga. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu menebar salam saat bertemu sesama saudara muslim? Lagi-lagi, unsur Islam disusupkan Tasaro dengan cara yang sangat cerdik.

Anda sepakat dengan saya?

Yang sedang merindukan Nibiru dan 7 Kota Suci

@dIeN’s


Leave a comment

The Special One

Mendengar istilah The Special One, bagi Anda, terutama para gibol (penggila bola), pasti akan teringat pada sosok pelatih kontroversial sekaligus fenomenal, yaitu Jose Mario dos Santos Felix Mourinho yang lebih dikenal dengan nama Jose Mourinho.

Jose Mourinho 1Julukan The Special One memang pantas untuk sosok pelatih yang satu ini. Menangani FC Porto sejak Januari 2002, Mou, begitu biasanya media massa menyebutnya, berhasil mempersembahkan enam trofi dan sempat meraih treble winner pada tahun 2003. Setelah berhasil membawa Porto menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 2003 itu, pada 31 Mei 2004 Mou berlabuh ke Chelsea.

Pada musim pertamanya bersama Chelsea di Liga Utama Inggris, Mou berhasil membawa Chelsea menjadi juara. Prestasi ini berlanjut pada tahun berikutnya. Namun pada musim 2006-2007, gelar Juara Liga lolos dari Chelsea. Namun pada tahun itu Mou berhasil mempersembahkan gelar ganda sebagai Juara Piala Carling dan Piala FA bagi Chelsea. Berikutnya, setelah sempat menganggur selama sembilan bulan, pada 2 Juni 2008 Mou berlabuh ke Italia. Kali ini Inter Milan yang menikmati jasa pelatih yang kerap memberikan komentar-komentar kontoversial ini.

Sama halnya di Chelsea, tahun musim pertama bersama Inter (musim 2008-2009), Mou menjadikan klub barunya itu meraih gelar Liga Italia Seri-A. Di musim berikutnya (2009-2010), Mou bahkan membawa Inter meraih treble winner, yakni dengan meraih trofi Liga Champions Eropa, Coppa Italia, dan Scudetto Seri-A. Lagi-lagi Mou berhasil meraih treble winner. Kesuksesan bersama Inter di Italia membuat Mou menginginkan tantangan lain di tanah Spanyol. Pada 27 Mei 2010, Mou ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid.

Beberapa penghargaan individupun berhasil diraih Mou, antara lain:

Dari berbagai prestasinya yang fenomenal itu, tidak salah jika julukan The Special One melekat pada diri Jose Mourinho. Masalahnya adalah, julukan ini tidak berasal dari media massa, lembaga internasional, institusi pendidikan, atau yang lain. Julukan ini keluar dari mulut Mou sendiri. Adalah ketika tiba di Chelsea pada tahun 2004, Mourinho sendirilah yang menyebut dirinya sebagai Sang Istimewa, The Special One. Sontak saja pemberian julukan ini kerap menjadi sasaran tembak pada kuli media. Tidak terkecuali para pelatih Liga Utama Inggris. Maklum, Mou adalah orang baru di Liga Inggris kala itu. Tidak heran, beberapa media menggambarkan Mou sebagai sosok yang sombong dan angkuh. Terlepas dari citra sombong dan angkuh, Mou berhasil membuktikan kontroversi julukan itu dengan prestasi.

Ya, itulah Jose Mourinho dengan segala kontroversi the special one dan prestasinya. Bisa jadi julukan itu merupakan cerminan bahwa Mou memang sombong dan angkuh. Namun bisa jadi pula kontroversi itu sengaja ia ciptakan agar ia berprestasi tinggi, setinggi kontroversi yang mengiringinya.

Namun, virus the special one ini menyebar ke mana-mana. Hari ini beberapa di antara kita merasa sebagai yang istimewa. Bisa jadi karena posisinya dalam organisasi. Bisa jadi karena perannya yang vital dalam organisasi. Bisa jadi karena jasa-jasanya bagi organisasi. Atau, bisa jadi memang sudah karakternya yang merasa bahwa dia adalah sang istimewa.

Sebuah organisasi adalah “[n] (1) kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; (2) kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama.” (http://kbbi.web.id/). Organisasi adalah bangunan sistem dan individu-individu yang menjalankan peran sesuai dengan perannya masing-masing untuk mencapai tujuan yang disepakati bersama. Tujuan organisasi akan tercapai jika masing-masing individu memahami perannya masing-masing dan tahu betul bagaimana menjalankan peran itu. Tidak ada yang merasa inferior atau superior atas satu sama lain. Tidak ada yang merasa istimewa karena posisinya. Tidak ada yang merasa lebih penting karena peran vitalnya. Tidak ada yang merasa paling berjasa karena jasa-jasanya. Posisi, peran vital, jasa-jasa hanyalah bagian dari peran yang harus dimainkan dengan baik dalam organisasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dalam organisasi dan bagi organisasi.

So, are you the special one?

@dIeN’s


1 Comment

Berbeda itu Sah-sah Saja (gado-gado kelinci cantik)

 

cropped-some-are-different-hd-wallpaper-768x1366.jpg

Some are different. Itulah bunyi wallpaper yang saya temukan dari aktivitas image googling di Internet. “Beberapa (di antara kita) berbeda”, barangkali itu terjemahannya.

Saya jadi teringat kalimat dalam sebuah iklan rokok di TV, “Bersama tidak selalu sama.” Memang begitulah iklan rokok. Karena tidak boleh menampilkan rokoknya, para pengiklan rokok dengan sangat bebasnya menggunakan berbagai kalimat dan visualisasi yang seringkali tidak ada hubungannya dengan rokok. Mereka tidak perlu gusar dengan larangan itu. Toh, di penghujung iklan, mereka diharuskan menampilkan peringatan pemerintah “Merokok dapat menyebabkan dst.”. Dan, dengan membaca peringatan ini pemirsa TV pasti akan tahu bahwa iklan yang baru saja mereka saksikan adalah iklan rokok. Ketentuan untuk menampilkan peringatan pemerintah itu justru kontraproduktif untuk menekan aktivitas merokok. Ironis, bukan?

Kenapa jadi ngelantur membahas iklan rokok, ya? Ya, terlalu sayang untuk dilewatkan karena ide menulis iklan rokok tadi semerta-merta muncul dalam benak di sela-sela saya berpikir tentang apa yang musti saya tulis terkait dengan perbedaan, ide awal saya membuat tulisan ini. Ibarat kelinci cantik (ungkapan ini saya dapatkan dari sahabat lama saya), saat ia melintas di depan mata atau terlintas di pikiran, jika tidak segera ditangkap, ide itu akan pergi begitu saja. Menulis adalah ikhtiar untuk menangkap ide itu.

Kembali pada pembahasan utama, perbedaan. Manusia memang diciptakan berbeda, unik. Tidak satupun manusia di dunia ini, kembar identik sekalipun, diciptakan sama persis. Bentuk fisik memang boleh jadi sama, tapi pasti ada sisi lain yang membedakannya. Tapi di situlah indahnya perbedaan. Taman bunga itu berisi beraneka warna dan aroma bunga. Tapi justru karena keanekaan itulah taman bunga tampak lebih indah dan lebih berwarna. Itulah rahasia perbedaan. Jadi berbeda itu sah-sah saja.

Duh, kenapa tidak kelinci kecil yang lewat lagi, ya? Jadi kekeringan ide, nih. Sudahan, deh nulisnya. Tukang Bubur Naik Haji sudah mulai tayang lagi setelah beberapa iklan berseliweran di depan mata. Termasuk iklan rokok, he he he.

Ada ide tentang perbedaan? Silakan sumbang comment, ya.

yang kehabisan ide
@dIeN’s


2 Comments

Antara Lesehan dan Kursi

ruang tamu lesehanMalam itu saya menghadiri undangan seorang kerabat. Memperingati 100 hari wafatnya ayahnya, itulah hajat kerabat saya itu. Datang lebih terlambat daripada tamu-tamu lainnya, maklum rumah saya beda kampung dengan kerabat saya tadi, membuat saya bingung hendak memilih tempat duduk. Kala itu, tempat hajatan ditata dengan sistem lesehan. Tikar dan karpet digelar di ruang tamu, teras, dan halaman rumah.

Untunglah kerabat saya datang memecah kebingungan saya. Dia menghampiri dan mempersilakan saya masuk di ruang tamu. Agak gak enak juga sih melangkahi para tamu yang sudah duduk bersila di halaman dan teras yang sudah penuh itu. Tapi saya terus saja berjalan menuju ruang tamu sembari menyalami para tamu di sepanjang jalan. Sebenarnya bukan jalan, sih. Yang saya sebut jalan di sini maksudnya adalah ruang yang disediakan para tamu yang telah duduk dengan sedikit menggeser tempat duduknya. Berdesakan. Ruang tamu ternyata tidak kalah penuhnya dengan teras dan halaman. Kembali saya bingung mau duduk di mana. Salah seorang tamu ternyata memahami kegelisahan saya. Sambil menggeser sedikit duduknya, dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Ajaib, ternyata cukup!

Di malam yang lain, saya juga menghadiri undangan seorang tetangga. Undangan walimatul urusy. Kali ini saya tidak datang terlambat. Maklum, kan yang punya hajat tetangga sendiri. Kalau terlambat mah kebangetan, kan? He he he. Sambil menunggu acara dimulai, saya mengamati keadaan sekitar. Macam-macam tingkah pola para undangan. Ada yang minum, ada yang ngobrol, ada yang merokok, dan ada juga yang tersiksa dengan asap rokok tetangga duduknya. Yang terakhhir tadi itu saya, he he he. Semakin lama semakin banyak undangan yang hadir. Saya amati, seluruh kursi sudah terisi. Tidak lama berselang, acarapun dimulai.

Baru setengah jalan pembawa acara membuka acara, berdatangan beberapa tamu undangan. Melihat semua kursi telah terisi, para penyambut tamu kebingungan. “Para tamu ini mau dipersilakan duduk di mana?” itu mungkin pikir mereka. Para tamu yang baru datang ini juga tak kalah bingung dan gelisahnya. Saya yang duduk tak jauh dari para penyambut tamu merasakan hal yang sama. Maklum, saya kan tetangga yang punya hajat? Memberikan tempat duduk saya gak mungkin. Apalagi tempat duduk orang lain. Melihat-lihat sekitar, akhirnya saya menemukan bahwa teras rumah saya masih kosong. Akhirnya para tamu yang baru datang tadi saya persilakan duduk di teras rumah saya. Nggak pakai kursi memang, lesehan!

Sahabat, itulah bedanya lesehan dan kursi. Dalam sistem lesehan, ada kebersamaan dan semangat berbagi. Longgar atau berdesakan dirasakan bersama. Longgar ataupun berdesakan, selalu ada ruang untuk berbagi dengan orang lain. Tinggal geser sedikit, tempatpun tersedia.

Bagaimana dengan sistem kursi? Bisa jadi dalam sistem kursi ada semangat kebersamaan dan berbagi. Namun semangat ini tidak didukung dengan “sistem” yang mendukung. Orang yang sudah duduk mungkin saja ingin berbagi dengan orang lain. Tapi berbagi pakai apa? Yang ada malah egoisme dan semangat keakuan. Bagi kalangan tertentu, kursi melambangkan status. Status yang terkadang harus diperoleh dengan pengorbanan. Jadi, tidak heran jika seseorang sudah mendapatkan tempat duduk (kedudukan) tertentu, susah baginya untuk melepaskan kedudukan itu. Lihat saja fenomena yang terjadi dalam praktik kenegaraan kita. Berebut kursi kekuasaan dengan segala cara sudah lazim di negeri ini. Tidak cukup dengan satu kursi, kursi-kursi yang lainpun diduduki juga. (Gimana cara duduknya, ya? Gak kebayang deh duduk di dua kursi, he he he).

Lesehan adalah budaya asli Indonesia. Semangat kebersamaan dan berbagi adalah asli Indonesia. Di tengah kondisi bangsa yang belum juga beranjak dari keterpurukan, rasanya kita perlu kembali kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagaimana yang kita pelajari sejak berada di bangku SD kala itu. Semoga bangsa ini segera merdeka semerdeka-merdekanya.

 

yang sedang ngelantur sok mikirin bangsanya
@dIeN


2 Comments

Pelajaran dari Motor Soak

Pagi ini, saat akan berangkat ke kantor, saat menyalakan motor, ada gambaran yang aneh di panel motor saya. Ini dia penampakannya:

Image3019[1]Aneh, karena pada saat yang sama indikator netral, gigi satu, dan gigi empat menyala bersama-sama. Karena terburu-bruru akan berangkat, penampakan itu saya abaikan saja. Setelah motor saya keluarkan, segera saya tekan tombol start, masukkan gigi satu, dan tarik gas berangkat tugas.

Di tengah perjalanan, dengan operasi standar, saya masukkan gigi dua, gigi tiga, dan gigi empat sesuai dengan kebutuhan. Saat menginginkan jalan pelan, giginya diturunkan. Saat butuh jalan kencang, giginya dinaikkan. Pokoknya, diturunkan dan dinaikkan sesuai kebutuhan. Suatu ketika, pada saat masuk gigi tiga, ada gambaran yang aneh lagi di panel motor saya. Ini dia penampakannya:

Image2788[1]

Indikator gigi dua, gigi tiga, dan gigi empat menyala bersama-sama. “Ini motor memang agak soak kali, ya?” Pikir saya. Asal bukan yang menaikinya saja yang soak, he he he. Selama dalam perjalanan di atas motor, saya jadi berpikir dan akhirnya timbullah ide untuk membuat tulisan ini.

Pada penampakan pertama, saya senang sekali melihat motor saya. Bagaimana tidak, belum juga diperintah bekerja, masing-masing sudah berebut untuk bekerja. Gigi satu, gigi empat, bahkan netralpun berebut untuk mempromosikan dirinya. “Saya lho yang pantas dipekerjakan lebih dulu”, itu mungkin yang ingin mereka sampaikan. “Tenang, tenang, kalian akan dapat pekerjaan sesuai dengan porsi kalian masing-masing,” gumam saya dalam hati seolah-olah mengerti apa yang mereka inginkan.

Sebagai pemilik motor yang bijak, tentu saya akan mulai bekerja dengan gigi netral saat mengeluarkan si motor. Saat kali pertama jalan, tentu saya akan bekerja dengan gigi satu. Agak kencangan sedikit, saya memilih bekerja dengan gigi dua, gigi tiga, dan sampai dengan gigi empat untuk mendapatkan kecepatan optimal. Saat hendak belok ke pom bensin, peran gigi empat saya alihkan ke gigi tiga, gigi dua, gigi satu, sampai motor berhenti. Baru kemudian gigi netral agar motor dapat dituntun ke tempat pengisian bensin.

Bagaimana kalau peran mereka ini saya balik. Misalkan pada saat kali pertama jalan saya bekerja dengan gigi empat, terus turun ke gigi tiga, gigi dua, sampai dengan gigi satu? Anda bisa bayangkan, kan bagaimana kinerja motor saya jadinya? Sebagai pemilik motor, tentu tidak bijak jika saya operasikan motor saya dengan cara seperti ini.

Pada penampakan kedua, saya agak sedih melihatnya. Bagaimana tidak? Jelas-jelas yang sedang bekerja dengan saya saat itu adalah gigi tiga. Eee, si gigi dua dan gigi empat koq mengaku-aku ikut bekerja? Tapi saya tidak ambil pusing terlalu lama. Maklum, kan sedang di atas motor? Kalau terlalu banyak ambil pusing, nanti jadi pusing beneran. Bisa-bisa tidak sampai kantor malah sampai ke UGD. He he he. Bagi saya, sebagai satu kesatuan motor, motor saya bisa membawa saya dengan selamat sampai di kantor.

Pembaca, dalam konteks organisasi, fenomena seperti penampakan pada motor saya, baik penampakan pertama maupun penampakan kedua, bisa saja kita temui. Tinggal bagaimana mengolah itu semua sehingga pencapaian tujuan organisasi tidak terganggu.

Apapun organisasi di mana Anda berkiprah saat ini, semoga Anda dan organisasi Anda tidak terganggu dengan fenomena-fenomena seperti penampakan motor saya tadi. Motor soak koq dipikirin. He he he. Gak cukup hanya dipikirin, bawa motor tuh ke bengkel!

Yang Berencana ke Bengkel

@dIeN’s


Leave a comment

Grenade – Cerita Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

eternal loveMenyaksikan X-Factor Indonesia, sebuah ajang pencarian bakat di dunia tarik suara, perhatian saya tertuju pada seorang kontestan bernama Fatin pada saat audisi. Bukan hanya karena suaranya yang dahsyat. Bukan juga karena penampilannya yang lugu dan malu-malu. Namun perhatian saya tertuju pada lagu yang dibawakannya. Saat melihat videonya di youtube, samar-samar saya mendengar bahwa judul lagu itu adalah “greenday”, “greeny”, atau apalah.

Didorong oleh rasa penasaran, saya coba googling dengan kata-kata kunci yang saya sangka judul lagu itu. Hasilnya, nihil. Saya coba mendengarkan Fatin menyanyi lebih seksama. Dan saya mendapatkan lirik “black, black, black and blue”. Lantas, saya coba kembali googling dengan kata kunci yang terakhir ini. Dari kegiatan googling ini saya mendapatkan link ke lagu “Grenade” yang dibawakan oleh Bruno Mars. Tanpa menunggu lama saya segera mengunduh video Grenade dari youtube dan sekalian mengunduh liriknya. Ingin mengunduh juga? Silakan kunjungi http://www.youtube.com/watch?v=SR6iYWJxHqs untuk videonya dan http://www.azlyrics.com/lyrics/brunomars/grenade.html untuk liriknya.

Berulang-ulang saya putar video Grenade-nya Bruno Mars. Juga versi yang dibawakan Fatin. Sembari menyaksikan video mereka, saya juga menyimak liriknya. Dari situ dapat saya pahami bahwa lagu ini adalah cerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sang cowok sudah mati-matian menyerahkan jiwa raganya untuk sang cewek. Namun, apa balasan dari sang cewek? Bukan hanya sekadar menolak, namun penolakan itu jauh lebih dahsyat daripada pengorbanan sang cowok. Mari kita simak cuplikan lirik di bawah ini:

Harapan sang cowok:

“Gave you all I had
To give me all your love is all I ever asked

Dan bagaimana pengorbanan yang dilakukan oleh sang cowok”

“I’d catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on a blade for you (yeah, yeah, yeah)
I’d jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I’d do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby

Akan tetapi, balasan sang cewek”

“…And you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, you did …

“… But you won’t do the same …”

“If my body was on fire
Oh, you would watch me burn down in flames …”

Hingga pada akhirnya umpatan, makian yang keluar dari sang cowok:

“… Tell the devil I said “Hey” when you get back to where you’re from
Mad woman, bad woman

That’s just what you are …”

You said you loved me, you’re a liar
‘Cause you never ever ever did, baby”

Walaupun demikian, tetap saja sang cowok rela berkorban demi sang cewek:

“But, darling, I’d still catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on the blade for you (yeah, yeah, yeah)
I’d jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I’d do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won’t do the same”

Kawan, beginilah kalau mencintai makhluk hanya karena mencintai makhluk. Makhluk tidak pernah abadi. Begitupun yang melekat padanya. Bagus atau buruknya rupa, manis atau pahitnya tutur kata, membahagiakan atau menyedihkannya cinta, semua itu tidak abadi. Ada masanya. Yang bagus bisa menjadi buruk. Yang manis bisa menjadi pahit, dan yang membahagiakan bisa menjadi yang menyedihkan. Karena itu semua melekat pada makhluk. Melekat pada sesuatu yang tidak abadi.

Lain ceritanya jika mencintai itu karena Dzat yang abadi. Bagus atau buruknya rupa, manis atau pahitnya tutur kata, membahagiakan atau menyedihkannya cinta, jika dilandasi karena mencintai Tuhan, atas izin-Nya, maka semua itu akan terlihat bagus, terasa manis, dan pasti membahagiakan. Bukan umpatan yang keluar. Justru malah kesyukuran. Memang, bagi sebagian kita, untuk sampai pada bagus, manis, bahagia, dan kesyukuran ini kadang memerlukan proses. Butuh proses belajar hingga sampai pada ditemukannya makna. Ditemukannya hakikat. Lebih daripada itu adalah bagaimana hakikat itu mampu menjadi penggerak bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi.

Selamat Berproses

@dIeN’s