Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Warna Dunia Tergantung Dari Cara Memandangnya

bola-duniaSore itu, selepas Maghrib, anak bungsu saya minta dibelikan es krim. Menaiki motor matic kesayangan istri, dia berdiri di depan, sedangkan sang kakak duduk di belakang. Kebiasaan kami adalah setiap naik motor, ke mana saja, meskipun dekat, saya budayakan anak-anak memakai kaca mata. Jaga-jaga barangkali ada hewan kecil yang nyasar ke mata. Kurang lebih seminggu sebelumnya, mereka berdua saya belikan kaca mata untuk anak-anak. Kacanya berwarna ungu.

Pada setiap kesempatan, saya selalu menyisipkan pendidikan kepada anak-anak lewat apapun yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan usia mereka. Misalnya ketika jalan-jalan pagi saya tanyakan kepada si adik apa warna benda-benda di sekitarnya. Juga terkadang saya tanyakan apa bentuknya bagaimana. Dan saya berusaha untuk menghubungkan pengalaman mereka dengan agama. Misalnya matahari ciptaan siapa. Yang menerangi malam dengan cahaya bulan itu siapa. Yang membuat lampu yang menyebabkan ruangan menjadi terang siapa, dan lain-lain.

Begitu juga dalam perjalanan beli es krim tadi. Kepada adik saya tanyakan bulan itu bentuknya apa. Bulat, dia menjawab. “Terus, warnanya apa”? lanjut saya. “Ungu” dengan polosnya ia menjawab. “Lho, koq ungu?” protes saya atas jawabannya.  “Iya, Yah, ungu!”, dengan nada lebih tinggi seolah-olah tidak terima dengan protes ayahnya. Rupanya sifat tidak mau disalahkan si adik lebih kuat daripada ayahnya, he he he. Karena protesnya itu saja jadi teringat bahwa adik sedang memaca kaca mata ungu. Makanya, apapun warna aslinya, semua jadi ungu dalam pandangan si adik. Baru ketika dia saya minta untuk melepas kaca matanya, dia menjawab warna bulan putih.

Belajar dari jawaban si adik tadi, rupanya begitulah warna dunia ini, tergantung bagaimana kita memandangnya. Tergantung dengan “kaca mata” apa kita melihatnya. Mau pakai “kaca mata” positif atau negatif. Kalau “kaca mata” negatif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun posistif, jadi negatiflah ia dalam pandangan kita. Apalagi kalau yang kita pandang itu dari sananya sudah negatif, jadi bertambah-tambah sifat negatifnya. Jika “kaca mata” positif yang kita gunakan, apapun yang dilihat, meskipun negatif, jadi positiflah ia dalam pandangan kita. Hal yang negatifpun, jadinya akan menjadi positif jika “kaca mata” yang kita gunakan adalah “kaca mata” positif. Ada lagi “kaca mata” yang dapat kita pilih, “kaca mata” netral. Dengan “kaca mata” netral ini, semua yang dilihat akan tampak seperti apa adanya.

Bagaimana warna dunia tergantung pada pilihan “kaca mata” yang kita gunakan. Positif, negatif, atau netral, itu terserah kita. Tergantung pada warna apa yang kita inginkan.

Selamat memandang dunia.

Ciputat, 18 Maret 2015
@dIeN