Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Memantaskan Diri Menjadi Pemimpin

PemimpinHari Rabu, tanggal 1 Juli 2015. Waktu bagi saya untuk berangkat ke Pusdiklat Sekretariat Negara di Cilandak, Jakarta. Ada pelatihan bagi para Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PPBJP) yang diselenggarakan oleh LKPP. Maklum, PPBJP adalah jabatan fungsional baru. Untuk itu, perlu diadakan pelatihan agar para pemangku jabatan ini memahami hak-hak dan kewajiban-kewajibannya agar dapat melaksanakan pengadaan yang kredibel dan akuntabel.

Tiba di ruang tunggu Bandara Juanda sekitar pukul 11.33 WIB, saya langsung menuju toilet. Maaf, sudah ada yang musti dibuang untuk sedikit meringankan tubuh. Sebuah “ritual” yang saya tidak tahu kenapa selalu ingin saya lakukan selepas tiba di tempat baru. Lorong menuju toilet ternyata melewati sebuah mushola. Dari luar mushola saya melihat seorang wanita yang sedang mengenakan mukena, mengingatkan saya pada waktu Dhuhur. Maka, pada saat saya melakukan “ritual” terbersit dalam hati saya untuk mengambil wudlu yang mendirikan sholat selepas “ritual” itu selesai.

Di tengah-tengah wudlu, saya mendengar seorang pria, sebut saja namanya Ahmad, mengumandangkan adzan dari dalam mushola. Dari pakaiannya, Ahmad ini bukanlah pegawai bandara, namun orang kebanyakan yang juga akan melakukan perjalanan dengan pesawat udara. Setelah adzan selesai, tak lama ia mengumandangkan iqomat. Ada tiga pria di saat itu. Ahmad, saya, dan seorang pria lagi yang sudah bapak-bapak. Saya sendiri, sih, bukan bapak-bapak, he he he. Masing-masing kami bertiga saling mempersilakan untuk menjadi imam sampai pada akhirnya Si Bapak maju untuk siap-siap menjadi imam. Namun, sebelum takbiratul ihram, Ahmad mengingatkan Si Bapak bahwa kaki Sang Bapak, bagian kaki yang seharusnya terbasuh oleh air wudlu, ternyata masih kering. Awalnya Sang Bapak tidak mengerti apa maksud Ahmad. Begitu juga dengan saya. Namun, tidak lama berselang kami menyadari bahwa wudlu Sang Bapak tidak sempurna. Kalau beliau meneruskan diri menjadi imam maka sholat kami bertiga tidak sah. Dengan rela hati Sang Bapak mundur dan mengulangi wudlunya.

Ditunggu beberapa menit, Sang Bapak belum juga kembali. Melihat kekosongan “kursi” imam ini, akhirnya saya mempersilakan Ahmad untuk menjadi imam. Awalnya dia menolak. Tapi setelah saya memberi isyarat persetujuan, akhirnya dia bersedia menjadi pemimpin sholat kami. Di dalam hati saya berkata bahwa Ahmad lebih layak menjadi imam. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk itu. Sejak awal ia telah mengondisikan dirinya untuk itu. Dimulai dari kumandang adzan, iqomat, sampai mengingatkan Sang Bapak tadi, tampak jelas bahwa ia telah siap menjadi imam. Ia telah memantaskan dirinya untuk menjadi pemimpin sholat kami di mushola Ruang Tunggu Bandara Juanda siang itu.

Sabahat, pernahkah Anda mendapati bahwa sebagian besar orang lebih sibuk berkeinginan untuk menjadi pemimpin? Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. Melobi sana, melobi sini. Menyikut sana, menyiikut sini. Menjilat sana, menjilat sini. Dan lain-lain dan lain-lain cara yang menurut saya buang-buang energi. Satu hal yang mereka lupakan. Mereka lupa untuk memantaskan dirinya menjadi pemimpin. Tak heran ketika mereka benar-benar menjadi pemimpin, seringkali mereka gapim, gagap kepemimpinan, tidak tahu apa yang musti dilakukan dengan amanah kepemimpinan itu. Mudah-mudahan Anda dan saya bukanlah bagian dari mereka.

Kepemimpinan bukanlah barang instan. Ada proses yang harus dilalui untuk sesorang menjadi pemimpin. Ada proses untuk memantaskan diri untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan, yang dalam arti sempit disebut jabatan, memang menggiurkan bagi sebagian besar orang. Maklum, pada umumnya ada kenikmatan materi yang menyertainya. Namun, jangan sampai energi kita habiskan untuk mengejar jabatan. Justru, biarkanlah jabatan itu mengejar kita.

Caranya? Pantaskanlah diri Anda. Persiapkanlah diri Anda untuk menjadi pemimpin. Kuasai aspek teknis, kuasai aspek manajerial, dan kuasai aspek strategis dari bidang pekerjaan Anda. Bukan untuk dinilai apakah Anda pantas atau tidak menjadi pemimpin. Akan tetapi semata-mata ikhlas untuk memberikan yang terbaik dari diri Anda untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi orang lain dan organisasi Anda. Tidak perlu buang-buang energi untuk mempromosikan diri. Tidak perlu sibuk untuk mencari posisi. Promosi dan posisi akan dengan sendirinya menghampiri Anda. Insha-Allah amanah.

Ba’da Shubuh
Cilandak, 3 Juli 2015,
@dIeN


Leave a comment

Pelajaran dari Sepatu dan Hujan

Sepatu Pria Kulit Asli BS 85_20110322141108Sore itu, menjelang pulang kantor, hujan turun begitu derasnya. Salah seorang kawan berkata, “Wah, sepatuku musti disimpan, nih. Sayang kalau nanti kebasahan.” Secara spontan saya berkata, “Hei, sepatu itu kan fungsinya untuk melindungi kaki dari terik matahari dan hujan. Lah, pada saat dia harus menjalankan fungsinya untuk melindungi kaki kita, mengapa kita pusing-pusing berpikir untuk melindunginya?” “Berpikirnya koq terbalik”, pikir saya. Kala itu, logika saya yang lebih dominan.

Tapi, sejurus kemudian saya berpikir, “Ada benarnya juga, sih. Saasepatu-ap-boot-moto-1t hujan deras begini, kita tidak harus memaksa sepatu untuk menjalankan tugasnya. Bisa-bisa, ia malah rusak dan tidak akan bisa melindungi kaki kita lagi di kemudian hari.” Ada baiknya kita menyimpannya dan menggantikannya dengan sandal, misalnya. Atau dengan yang lebih baik, sepatu boot khusus untuk hujan. Sepatupun legowo tugasnya diambilalih oleh sandal yang kualifikasinya dianggap lebih rendah, atau oleh sepatu boot yang kualifikasinya lebih tinggi. Di lain sisi, sandal atau sepatu boot harus siap sedia menggantikan peran sepatu.

Kawan, situasi hujan dan cerita tentang sepatu di atas bisa saja terjadi dalam sebuah organisasi. Anggota organisasi, di setiap level, memiliki tugas utama untuk menyukseskan agenda organisasi. Kepentingan individu atau kepentingan kelompok semestinya tidak mengalahkan kepentingan organisasi. Dalam kondisi apapun, “cuaca cerah” maupun “hujan”, setiap anggota organisasi harus siap sedia untuk “melayani” organisasi. Tentu, sesuai dengan porsi, posisi dan perannya dalam organisasi itu. Jika masing-masing saling memahami porsi, posisi, dan perannya, dan berkomitmen dengan tujuan organisasi, maka dapat dipastikan tujuan organisasi akan tercapai dengan baik.

Namun, dalam kondisi “hujan” sebagaimana yang dialami sepatu dalam cerita di atas, diperlukan kepekaan dari pemimpin organisasi untuk dengan cepat mengambil tindakan agar pencapaian tujuan tidak terganggu. Kepekaan untuk membaca apakah anggota organisasi mampu atau tidak bertahan dan menjalankan tugasnya dengan baik meskipun dalam kondisi seperti itu. Kalau memang dia mampu, apakah perlu ia perlu diberikan perlindungan atau tidak? Jika si anggota tidak mampu, apakah musti digantikan dengan anggota lain? Apakah anggota pengganti memiliki kualifikasi yang sepadan atau lebih tinggi?

Bukan hanya pemimpin saja yang musti peka. Si anggota juga harus peka dengan diri dan lingkungannya. Ketika ia tidak mampu menghadapi “hujan”, dia harus tahu apa yang musti dikerjakan. Melengkapi dirinya dengan kualifikasi lebih atau dengan legowo menyerahkan kembali tugas kepada pemimpin untuk didelegasikan kepada anggota yang lain?

Pun demikian juga dengan anggota pengganti. Ketika pendelegasian tugas dilimpahkan kepadanya, dia harus siap sedia meskipun “hujan”. Tidak ada dalam benaknya untuk menyalahkan si A atau si B yang tidak mampu melaksanakan tugas. Ketika tugas dipercayakan kepadanya, satu kalimat yang ia musti camkan, “Saya pasti bisa!”

Jika masing-masing pemimpin dan anggota organisasi saling memahami peran masing-masing, sekali lagi, tujuan organisasi akan tercapai dengan baik. Namun, jika sebaliknya, misalnya pemimpin tidak mau tahu kondisi anggotanya, si anggota juga tidak peka dengan kemampuannya. Si pengganti juga tahunya menggerutu, dan sebagainya, maka, Anda bisa membayangkan apa jadinya organisasi seperti itu.

Kondisi semacam ini akan semakin parah jika masing-masing elemen organisasi lebih mementingkan kepentingan individu atau kelompoknya daripada kepentingan organisasi. Kepentingan, kepentingan, dan lagi-lagi kepentingan.

Semoga kita tidak terjebak dengan kepentingan sesaat yang terkadang menyesatkan.

@dIeN