Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Pengalaman Kerja Tidak Selalu Positif

PENGALAMAN 1Membaca koran Hari Sabtu, saya jadi teringat ketika masih berburu lapangan kerja, kurang lebih 10 s.d. 13 tahun yang lalu. Koran Sabtu biasanya memuat banyak lowongan pekerjaan. Macam-macam kualifikasi yang ditentukan oleh perusahaan. Dari latar belakang pendidikan, pendidikan terakhir, batas usia, sampai dengan pengalaman kerja. Untuk kualifikasi yang terakhir ini, beberapa perusahaan mensyaratkan pengalaman minimal 5 tahun. Yang lain 4 tahun, 3 tahun, dst. Ada juga yang tidak mempertimbangkan pengalaman. Bahkan, mereka lebih menyukai yang tidak punya pengalaman, alias baru lulus.

Tentu persyaratan pengalaman ini disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan bersifat teknis administratif, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang berpengalaman. Jika posisi pekerjaan yang ditawarkan menuntut kreasi dan inovasi, maka perusahaan lebih menyukai mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, membentuk karakter karyawan yang tidak berpengalaman akan lebih mudah daripada mereka yang berpengalaman. Memang, berpengalaman atau tidak belum tentu menentukan kinerja seorang karyawan. Masih ingat dengan senior yang protes karena tidak dipromosikan, https://syaifudins.wordpress.com/2013/07/19/pengalaman-anda-cuma-satu-tahun/? Itulah kondisi yang kita lihat saat ini di instansi-instansi swasta, apalagi di lingkungan instansi pemerintah. Namun sebagian besar perusahaan tidak mau mengambil risiko dengan merekrut mereka yang tidak berpengalaman. Bagi mereka, pengalaman adalah jaminan kinerja.

Sekarang, mari kita cermati apakah pengalaman selalu memberikan dampak positif terhadap kinerja karyawan dan kinerja perusahaan. Pengalaman akan memberikan dampak positif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan tidak menutup diri dari dinamika yang berkembang. Dengan membuka diri terhadap dinamika organisasi, maka karyawan akan mengombinasikan pengalamannya dengan dinamika itu. Ia akan menggunakan pengalamannya jika masih relevan dengan dinamika perusahaan. Namun ia akan tinggalkan pengalamannya jika tidak relevan lagi. Ia akan selalu berusaha mencari peluang, berdasarkan pengalamannya dan kondisi riil yang ia hadapi saat ini, untuk mengembangkan dirinya. Muncullah ide-ide baru, cara-cara baru, metode-metode baru yang membuat pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Dan tentu, ini akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dari sisi karyawan, pengombinasian ini akan memperkaya pengalamannya. Dengan demikian, si karyawan akan memiliki pengalaman baru.

Pengalaman akan memberikan dampak negatif bagi kinerja karyawan dan perusahaan jika si karyawan menutup diri dari dinamika yang berkembang. “Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun, masalah ini harus dipecahkan dengan cara ini, bukan dengan cara itu. Pokoknya harus dengan cara ini, titik.” Ungkapan seperti merupakan mental block bagi karyawan untuk berkembang. Kondisi seperti ini, lebih parahnya, tidak disadari oleh si karyawan. Akhirnya, pengalaman si karyawan cuma itu-itu saja. Tidak ada pengalaman baru.

Mental block adalah kondisi mental yang menghalangi atau membatasi seseorang untuk bergerak atau berubah. Mental block disebabkan oleh kemauan hawa nafsu, keengganan untuk keluar dari zona nyaman, kurangnya pengetahuan, kemalasan, atau kombinasi dua atau lebih di antara penyebab-penyebab ini. Tetangga sebelah, http://www.motivasi-islami.com/membuka-mental-block-tidak-sreg/, mengistilahkan mental block sebagai perasaan “tidak sreg”.

Jika “tidak sreg” disebabkan oleh hawa nafsu, maka Anda harus berjihad untuk melawannya. Kondisi nyaman adalah dambaan semua orang. Namun merasa puas dengan kondisi nyaman akan menutup Anda dari peluang untuk mendapatkan kondisi yang lebih nyaman. Anda tidak mau berubah karena kurangnya pengetahuan? Di zaman informasi seperti ini, alasan kurangnya pengetahuan rasanya tidak relevan lagi. Dengan kesaktiannya, Mbah Google akan mengarahkan Anda kepada informasi yang Anda butuhkan. Tinggal bagaimana Anda mengolah informasi itu menjadi pengetahuan. Malas berubah? Dikutip dari “Hikmah dalam humor kisah dan pepatah”, jilid 3, karya Abdul Aziz Salim Basyarahil, Aristoles berkata kepada muridnya yang malas, “Kalau demikian tidak ada jalan lain bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan.

Anda sedang “tidak sreg”? Jangan sampai hidup Anda dikuasai oleh “tidak sreg”. Anda tidak akan pernah berkembang, sebab apa pun nasihatnya jawabannya selalu “tidak sreg”. Mulai sekarang, saat dalam hati mengatakan tidak sreg, cobalah evaluasi apakah benar tidak sreg atau karena 4 penyebab di atas. Yang Anda perlukan adalah kejujuran dalam mengevaluasi diri, apakah Anda memperturutkan hawa nafsu, betah di zona nyaman, kurang pengetahuan, atau malas. Mulailah membuka diri dengan pengalaman-pengalaman perusahaan atau pengalaman-pengalaman orang lain. Bisa jadi pengalaman-pengalaman mereka, atau pengalaman-pengalaman mereka yang dikombinasikan dengan pengalaman Anda, adalah praktik terbaik untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi.

Kesimpulannya, pengalaman tidak selalu memberikan dampak positif. Mengelolanya dengan cerdas adalah solusi agar pengalaman selalu memberikan dampak positif bagi Anda dan perusahaan, instansi, atau organisasi apapun di mana Anda berkarya.

Salam,

@dIeN’s


1 Comment

Pengalaman Anda Cuma Satu Tahun

promotionSuatu ketika, dalam sebuah divisi di sebuah perusahaan swasta, seorang Manager berencana mempromosikan beberapa stafnya untuk menduduki posisi Supervisor. Supervisor dalam perusahaan itu adalah orang yang langsung membawahi staf. Di atas supervisor ada Manager. Di atas manager ada Kepala Divisi, dan seterusnya sampai posisi tertinggi Direktur Utama.

Didapatilah dua orang yang potensial di antara delapan staf yang ada. Proses seleksi ini dilakukan secara tertutup tanpa sepengetahuan staf-staf yang lain. Bahkan dua orang staf inipun tidak mengetahui jika mereka sedang dalam proses seleksi untuk menjadi supervisor. Setelah melalui tahapan tes kompetensi, dan beberapa tes yang lain, terpilihlah salah satu dari dua orang ini menjadi supervisor, menggantikan supervisor lama yang telah dipindahkan ke divisi yang lain. Pelantikan dilakukan secara sederhana, dengan syukuran sederhana, di hadapan manager dan seluruh staf bagian itu.

Tidak lama setelah pelantikan selesai, datanglah seorang staf senior, staf yang paling lama bekerja di situ, bahkan lebih lama daripada sang Manager, menghadap sang Manager. “Bos, ane ini kan yang paling lama bekerja di sini. Bahkan lebih lama daripada ente. Jauh sebelum ente bekerja di sini, ane ini sudah banyak berjasa bagi perusahaan ini!” protesnya dengan gayanya yang khas “senior” itu. “Semestinya ane yang lebih pantas menduduki jabatan supervisor. Bukan dia, anak ingusan yang baru empat tahun bekerja di sini. Ane ini sudah bekerja 10 tahun di sini. Ane yang lebih berpengalaman. Ini tidak adil!” protesnya berlanjut.

Setelah mempersilakan sang “senior” ini duduk, dengan kalem, sang Manager menjawab, “Memang Anda telah bekerja di perusahaan ini selama 10 tahun. Namun pengalaman Anda cuma satu tahun yang berulang selama 10 kali.” Dengan muka kecut, sang “senior” kembali ke tempat duduknya. Begitulah yang ia lakukan setiap kali koleganya mendapatkan promosi jabatan yang ia tidak bisa mendapatkannya tanpa berusaha meningkatkan kompetensinya.

So, Sahabat, berapa tahun pengalaman Anda?

@dIeN