Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


3 Comments

Nuzulul Quran – Belajar Menjadi Hamba yang Bersyukur

cover-quran1Kemarin sore, kantor kami mengadakan pengajian dalam rangka memperingati Nuzulul Quran. Sangat menarik apa yang disampaikan oleh penceramah. Salah satunya beliau menyampaikan bahwa kaum yang tidak beriman kepada Allah senantiasa melakukan usaha yang sistematis dan kontinu untuk menjauhkan kaum muslimin dari Al Quran.

Antara lain dengan menyuguhkan semua hal yang membuat mata terlena. Pornografi dalam berbagai kemasan disajikan agar mata kaum muslimin tidak ”melihat” Al Quran. Yang kedua adalah dengan menyuguhkan semua hal yang mengenakkan telinga. Musik yang menghentak atau musik lembut yang menghanyutkan sehingga terasa lebih merdu daripada lantunan Al Quran. Dan yang ketiga adalah dengan menyuguhkan semua hal yang membuat mulut kaum muslimin merasa nikmat. Bukan hanya lewat makanan, tetapi juga tayangan-tayangan yang membuat kaum muslimin terseret dalam ghibah dan fitnah sehingga mereka tidak sempat menggunakan lisannya untuk membaca Al Quran.

Namun, lanjut penceramah, Allah-lah yang menurunkan Al Quran dan Allah pulalah yang menjaga kesuciannya. Terbukti, sampai hari ini, setiap kali Al Quran dinodai, semakin tampak pula kemurniannya. Semakin tampak pula rahasia-rahasia ilmu Allah di dalam Al Quran. Subnanallah. Semoga kita semakin mencintai Al Quran. Amin.

Selepas ceramah, acara dilanjutkan dengan berbuka dengan makanan ta’jil dan diteruskan dengan sholat Maghrib berjamaah. Selepas sholat Maghrib, acara berbuka dilanjutkan dengan makanan utama, nasi dan pelengkapnya. Maklum, orang Jawa. Bukan makan namanya kalau belum makan nasi, he he he. Setelah mengambil nasi kotak dari panitia, saya memilih bergabung dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu duduk lesehan memakan nasi mereka. Tampak menikmati sekali mereka.

Saya memilih duduk di sisi paling kiri di antara mereka. Melihat isi kotak, saya semakin berselera. Tanpa menunggu lama, tangan saya langsung bekerja melaksanakan tugasnya. Hanya tangan, tanpa bantuan sendok. Lebih nikmat, kata kawan di yang dukuk tepat di kanan saya. Di tengah-tengah makan, tanpa sengaja saya melirik sisi kiri saya, di bagian bawah. Ada air menggenang kurang lebih 10 cm-an persegi, berjarak kira-kira 2 cm dari tempat saya duduk. Dalam hati saya berkata, ”Alhamdulillah ya, Allah. Ini semua atas rahmat-Mu. Jika tidak, maka genangan air ini sudah saya duduki. Terima kasih Engkau telah menyelamatkan saya dari kecelakaan.”

Kawan, bisa jadi apa yang hati saya katakan terlalu berlebihan, lebay kata anak sekarang. Basah oleh genangan air 10 cm persegi mungkin jauh dari kriteria celaka. Namun, bukankah semakin kita bersyukur, semakin banyak pula kenikmatan yang akan Allah berikan kepada kita? Dan, jika kita tidak bersyukur, Allah akan menurunkan azab-Nya? Naudzubillah. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur.

Bersyukur karena sampai detik ini kita masih meyakini bahwa tuhan kita adalah Allah. Bersyukur karena Allah mengutus rosul sehingga manusia menemukan model yang patut diteladani. Bersyukur karena Allah telah menurunkan manual book prakehidupan, kehidupan, dan pascakehidupan yang paling lengkap dan selalu up to date, Al Quran. Manual book yang senantiasa Allah jaga kemurniannya. Bersyukur karena kita dibekali otak yang selalu berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Bersyukur karena Dia memberikan kenikmatan yang kita tidak mampu menghitugnya. Itu semua hanyalah karena kasih sayang Allah, rohmat Allah. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur. Amin.

@dIeN

Advertisements