Syaifudin Sardi

…semua tentang syaifudin sardi dan catatan kehidupannya …


Leave a comment

Pribadi Yang Memberikan Kemanfaatan – Renungan Pergantian Tahun

Surabaya, 30 Desember 2016. Tahun 2016 kian mendekati masa berakhirnya. Besok lusa adalah tahun yang baru, tahun 2017.  Tepat pada tanggal 1 Januari 2017, pada tanggal berapapun Anda dilahirkan, usia Anda pasti bertambah. Ada yang pertambahannya dalam hitungan hari, hitungan bulan, atau bahkan tahun. Bilangan usia memang bertambah. Tetapi sejatinya, bertambahnya bilangan tahun adalah berkurangnya jatah.

renunganJatah apaan? Ya, jatah masa kontrak kita hidup di dunia. Memang tak satupun kita yang mengetahui secara pasti berapa sih masa kontrak kita di dunia. Tapi satu hal yang pasti, suatu saat nanti kita pasti meninggalkan alam dunia ini. Lantas bagaimana kita menyikapi pergantian tahun yang sejatinya pertanda berkurangnya jatah itu?

Ada banyak cara yang dilakukan banyak orang untuk menyikapi pergantian tahun itu. Sebagian besar adalah seperti yang dapat kita saksikan di sekitar kita dan begitu luar biasa diekspos oleh media. Berkumpul di ruang terbuka, menyalakan kembang api raksasa, berkonvoi di jalan-jalan dengan knalpot motor yang meraung-raung, meniup terompet, membunyikan klakson, dll, dll. Mereka itu sedang merayakan berkurangnya kontrak hidup, lho! Sebagian besar, begitulah cara merayakan pergantian tahun.

Tetapi, menjadi sebagian kecil yang tidak mengikuti kecenderungan orang banyak bukanlah sebuah keanehan, kan? Pergantian tahun akan lebih bermakna jika diisi dengan perenungan. Perenungan tentang seberapa bermanfaatnyakah diri ini bagi orang lain. Bukankan sebaik-baik di antara kita adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Jika di tahun lalu, kita sering membuat orang bersedih, sering membuat orang sakit hati, sering membuat orang bercacimaki, tentu harus ada yang diperbaiki pada diri ini. Namun, jika di tahun lalu kita membuat orang tersenyum, membuat orang tertawa, membuat orang bahagia, maka bersyukurlah. Berdoalah agar di tahun mendatang, kita semakin menjadi pribadi yang menyenangkan, pribadi yang membahagiakan, pribadi yang mencerahkan.

Pergantian tahun adalah momentum yang tepat untuk merubah diri. Merubah diri menjadi pribadi yang memberikan sebesar-besarnya kemanfaatan.

@dIeN’s

Advertisements


2 Comments

Why?

Why? Mengapa? Kata ini mungkin yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain Tuhan di muka bumi ini. “Mengapa?” menunjukkan betapa manusia selalu ingin tahu tentang apapun fenomena di dunia ini. Bahkan Tuhan-pun sering menyindir dan memerintahkan manusia untuk selalu memikirkan kejadian-kejadian alam yang melingkupinya. Tentang pergantian siang dan malam, tentang penciptaan manusia dalam wujud laki-laki dan perempuan, tentang tata letak bintang-bintang, tentang kejadian alam dan alam itu sendiri, bahkan tentang penciptaan manusia sendiri, dan lain-lain, dan lain-lain.

Perintah-perintah dan sindiran-sindiran itu bukanlah tanpa alasan. Manusia memiliki tempat istimewa di hadapan Tuhan dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Makhluk-Nya yang lain sebagian diciptakan hanya dengan potensi untuk menuruti perintah-Nya. Sebagaian yang lain hanya untuk membangkang dan melanggar perintah-Nya. Sedangkan manusia? Manusia diberi potensi untuk kedua-duanya, menuruti atau melanggar perintah-Nya. Lebih istimewanya lagi, Tuhan menundukkan sebagian makhluk-Nya untuk kepentingan manusia. Penundukan ini merupakan fasilitas yang diberikan kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pengelola bumi. Atas seizin-Nya, misalnya, air, api, tanah, udara, hewan, tumbuh-tumbuhan, mau-mau saja dimanfaatkan oleh manusia. Itulah istimewanya manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain.

Sumber daya yang ada dalam diri manusia senantiasa berkembang seiring dengan tantangan zaman yang dihadapinya. Untuk yang satu inipun, Tuhan juga memberikan fasilitas berupa pengajaran. Masih ingat ketika salah satu putra Adam yang kebingungan bagaimana memperlakukan saudaranya yang telah ia bunuh? Masih banyak lagi pengajaran yang Tuhan berikan kepada manusia. Alam semesta dan fenomena yang terjadi di dalamnya merupakan pengajaran yang Tuhan berikan kepada manusia. Tinggal bagaimana manusia bisa membaca tanda-tanda itu.

Rasa ingin tahun manusia membuatnya selalu berpikir untuk bagaimana menaklukkan tantangan-tantangan itu. Berbeda dengan hewan, kera misalnya. Sama-sama ingin menyeberang sungai, tidak pernah terbersit dalam benak kera untuk membuat jembatan, kan? Manusia memang tidak bisa terbang karena tidak dikaruniai sayap seperti burung. Nyatanya? Dengan rasa tahunya yang begitu besar, manusia bahkan mampu terbang lebih jauh dan lebih cepat daripada burung. Tubuh manusia juga tidak dilengkapi dengan insang dan sirip yang dengan itu ia bisa bernapas dan bergerak bebas di dalam air. Nyatanya? Bahkan manusia mampu menyelam ke dalam lautan paling dalam sekalipun.

Tidak salah memang manusia dipercaya untuk mengelola alam semesta ini. Terserah kepada manusia. Dengan segala keistimewaan itu, manusia dapat memberikan kemanfaatan. Namun, dengan keistimeewaan yang sama, manusia juga memiliki potensi yang sama untuk merusak alam semesta ini. Mengapa? Teruslah beringintahu. Karena itulah yang membedakan kita dengan makhluk-makhluk yang lain.

Ciputat, 22 Nov 2012.